LangsungKlik.id – Banyak orang pernah tanpa sadar meniru aksen atau logat lawan bicara, terutama ketika berbicara dengan seseorang yang memiliki ciri khas pelafalan tertentu. Fenomena ini bukan tanda disengaja atau dibuat-buat, melainkan respons alami otak manusia untuk menjaga hubungan sosial tetap harmonis. Proses ini dikenal dengan istilah mirroring, yaitu kemampuan otak menyesuaikan gaya bicara demi menciptakan kedekatan.
Para ahli neurosains menjelaskan bahwa otak memiliki mekanisme khusus untuk membaca bahasa tubuh, intonasi, dan pola suara lawan bicara. Ketika seseorang berinteraksi dengan lawan bicara yang memiliki aksen kuat, otak mulai menyesuaikan ritme, intonasi, hingga gaya pengucapan agar komunikasi terasa lebih akrab. Penyesuaian ini sering terjadi tanpa disadari karena dipicu oleh aktivitas mirror neurons, sel saraf yang berperan dalam meniru perilaku orang lain.
Dalam konteks sosial, meniru aksen dianggap sebagai bentuk kesopanan. Otak mengaktifkan pola tersebut untuk mengurangi jarak psikologis dan meningkatkan rasa kebersamaan. Itulah sebabnya, orang yang sedang berada di daerah baru atau sedang berkomunikasi dengan penutur dari wilayah lain kerap ikut berubah logatnya secara spontan.
Peneliti menambahkan bahwa fenomena ini lebih menonjol pada individu yang memiliki empati tinggi atau terbiasa bekerja dalam lingkungan sosial yang menuntut komunikasi aktif. Namun pada sebagian orang, perubahan aksen dapat terjadi hanya dalam waktu beberapa menit, terutama jika lawan bicara memiliki ritme suara yang sangat menonjol.
Fenomena mirroring dalam percakapan menunjukkan bahwa otak manusia selalu mencari cara untuk membangun koneksi sosial. Dengan memahami proses ini, kita bisa melihat bahwa perubahan aksen bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan reaksi alami yang dirancang untuk mempermudah interaksi sehari-hari. (*)
