LangsungKlik.id – Perayaan Imlek selalu identik dengan pertunjukan barongsai dan suara petasan yang meriah. Tradisi ini muncul setiap Tahun Baru China dan dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di berbagai negara, termasuk Indonesia. Lalu mengapa Imlek selalu dikaitkan dengan barongsai dan petasan? Tradisi ini berakar dari legenda kuno, berkembang menjadi simbol budaya, dan terus dilestarikan sebagai bagian penting dari perayaan Imlek hingga kini.
Dalam sejarahnya, Imlek atau Tahun Baru China dipercaya bermula dari kisah legenda makhluk buas bernama Nian yang muncul setiap pergantian tahun untuk mengganggu penduduk desa. Masyarakat kemudian menemukan bahwa makhluk tersebut takut terhadap warna merah, suara keras, dan cahaya terang. Dari sinilah tradisi menyalakan petasan dan menggunakan dekorasi merah mulai dilakukan sebagai simbol penolak bala.
Pertunjukan barongsai juga berangkat dari kisah serupa. Tarian singa atau barongsai diyakini sebagai simbol keberanian dan kekuatan untuk mengusir roh jahat. Gerakan energik dengan iringan tabuhan genderang dan simbal dipercaya membawa keberuntungan serta energi positif di awal tahun. Hingga kini, barongsai menjadi atraksi utama dalam perayaan Imlek di pusat perbelanjaan, klenteng, hingga ruang publik.
Petasan memiliki makna yang tidak kalah penting. Suara ledakan dipercaya mampu mengusir kesialan dan membuka lembaran baru yang penuh harapan. Meski di beberapa daerah penggunaannya dibatasi demi keamanan, simbol suara keras tetap menjadi bagian dari identitas perayaan Imlek.
Di Indonesia, tradisi barongsai dan petasan semakin terbuka dirayakan setelah pengakuan Imlek sebagai hari libur nasional. Perayaan ini tidak hanya menjadi momentum budaya, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi antarumat.
Dengan demikian, identitas Imlek yang lekat dengan barongsai dan petasan bukan sekadar hiburan. Keduanya menyimpan filosofi mendalam tentang harapan, perlindungan, dan keberuntungan di tahun yang baru. (*)
