LangsungKlik.id – Penelitian neurosains terbaru mengungkap bahwa otak manusia dapat bereaksi terhadap kekhawatiran yang belum terjadi seolah-olah sedang menghadapi bahaya nyata. Saat seseorang terjebak dalam overthinking atau membayangkan skenario buruk, pusat ancaman di otak seperti amigdala langsung aktif dan memicu respons stres layaknya kondisi darurat.
Respons tersebut membuat tubuh memproduksi kortisol dan adrenalin, dua hormon yang biasanya muncul ketika manusia menghadapi situasi genting. Para peneliti menjelaskan bahwa mekanisme ini bekerja karena otak lebih mengutamakan keselamatan, sehingga sulit membedakan ancaman nyata dari ancaman yang hanya berupa pikiran.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa saat seseorang membayangkan masalah yang belum terjadi, tubuh dapat mengalami perubahan fisiologis yang nyata, seperti peningkatan detak jantung, otot menegang, hingga gangguan konsentrasi. Respons ini sama dengan ketika menghadapi stres berat secara langsung, seperti kecelakaan, konflik, atau situasi berbahaya lainnya.
Peneliti dari beberapa universitas di Amerika Serikat mencatat bahwa fenomena ini termasuk dalam kategori anticipatory stress, yaitu stres yang dipicu oleh kekhawatiran tentang masa depan. Individu yang sering mengalami kondisi tersebut disebut lebih rentan mengalami kelelahan, sulit tidur, dan gangguan suasana hati karena tubuh terus berada dalam mode “siaga”.
Para ahli menyarankan agar masyarakat mengenali tanda-tanda overthinking sejak dini. Teknik seperti latihan pernapasan, mindfulness, dan pengelolaan pikiran dapat membantu menurunkan respons stres yang berlebihan. Dengan memahami cara kerja otak, masyarakat diharapkan mampu mengurangi beban psikologis yang sebetulnya bersumber dari pikiran sendiri dan bukan dari ancaman nyata. (*)
