LangsungKlik.id, Jember – Fenomena banjir di Kabupaten Jember kembali memantik sorotan publik setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis (12/2/26) siang hingga Jumat (13/2/26) dini hari. Sedikitnya 17 desa dan kelurahan terdampak genangan air. Peristiwa ini terjadi di tengah pengaruh fenomena atmosfer Madden–Julian Oscillation (MJO) yang memicu peningkatan curah hujan di kawasan tropis. Namun, persoalan banjir di Jember dinilai tidak semata karena faktor alam, melainkan juga akibat lemahnya mitigasi dan tata ruang.
Secara ilmiah, keberadaan Madden–Julian Oscillation (MJO) memang berpengaruh terhadap intensitas hujan di wilayah Indonesia. Pola pergerakan awan konvektif dari Samudra Hindia menuju Pasifik dalam siklus 30–60 hari kerap memicu hujan lebat. Akan tetapi, meningkatnya frekuensi banjir menunjukkan adanya persoalan struktural dalam pengelolaan wilayah.
Data menyebutkan wilayah terdampak meliputi Desa Suci, Jubung, Rambigundam, Rambipuji, Curahmalang, Nogosari, Kaliwining, Gugut, Gambiran, serta Kelurahan Jember Kidul, Tegal Besar, Kepatihan, dan Mangli. Selain itu, Desa Petung, Sukorejo, Ajung, hingga Balung juga terendam. Genangan air tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berdampak pada sektor ekonomi dan pendidikan.
Banjir di sejumlah titik perkotaan diduga berkaitan dengan sistem drainase yang tidak berkembang dan minim normalisasi. Kapasitas tampung air hujan terbatas karena tidak ada rehabilitasi dan pengembangan saluran baru. Pembangunan yang tidak memperhatikan kontur wilayah serta alih fungsi lahan memperparah limpasan air. Drainase primer terbebani akibat pertumbuhan kawasan tanpa perencanaan matang.
Persoalan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Jember juga menjadi sorotan. Dokumen tata ruang dinilai belum sepenuhnya responsif terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Lemahnya kajian risiko, pengabaian daya dukung lingkungan, hingga ketidaksinkronan perencanaan memperlihatkan adanya kegagalan kebijakan dalam mitigasi bencana.
Langkah konkret seperti pembangunan sumur resapan, biopori, ruang terbuka hijau, serta penguatan jaringan drainase primer dan sekunder dinilai mendesak dilakukan. Tanpa pembenahan menyeluruh, Jember berpotensi terus menjadi langganan banjir setiap musim hujan.
Banjir bukan sekadar persoalan cuaca ekstrem. Ia adalah cerminan kualitas perencanaan dan tata kelola wilayah. Jika mitigasi dan tata ruang tidak segera dibenahi, maka kerugian sosial dan ekonomi akan terus berulang. (Bidang Gerakan PC PMII Jember/*)
