Langungklik.id – Saya sudah 10 tahun di dunia HR. Sudah cukup lama untuk tahu satu hal yang jarang diakui secara jujur oleh perusahaan, vendor job board, bahkan HR sendiri: masalah rekrutmen bukan kekurangan pelamar, tapi kelebihan pelamar yang tidak relevan.
Kalau Anda HR, Anda pasti pernah ada di titik ini:
Pasang lowongan.
Pelamar masuk ratusan.
CV menumpuk.
Inbox penuh.
Dan anehnya, setelah semua itu, tetap sulit menemukan orang yang benar-benar cocok.
Ironis, bukan?
Pasang Loker Itu Mudah. Mengelola Dampaknya Tidak.
Di luar sana, pasang lowongan kerja sudah sangat mudah. Tinggal isi form, upload logo, klik publish. Dalam beberapa jam, CV berdatangan. Dari sudut pandang bisnis job board, ini sukses. Dari sudut pandang HR, ini baru awal penderitaan.
Karena yang tidak pernah dibicarakan adalah biaya setelah CV masuk.
Bukan biaya uang yang tercatat di invoice, tapi biaya yang lebih mahal:
- Waktu HR
- Energi kognitif
- Fokus yang terpecah
- Keputusan yang makin kabur
Saya sudah melihat HR burnout bukan karena terlalu sedikit kandidat, tapi karena terlalu banyak kandidat tanpa struktur.
Realita Screening Manual yang Tidak Pernah Masuk Laporan
Mari jujur. Screening manual itu melelahkan.
CV datang dalam format berbeda-beda. Ada yang rapi, ada yang berantakan. Ada yang jago menulis, ada yang sebenarnya kompeten tapi CV-nya biasa saja. Lalu HR mulai membaca satu per satu, mencoba objektif, tapi tetap manusia.
Jam 9 pagi masih segar.
Jam 11 mulai capek.
Jam 3 sore, keputusan mulai tidak konsisten.
Ini bukan soal HR tidak profesional. Ini soal otak manusia memang tidak dirancang untuk mengambil ratusan keputusan mikro secara berurutan.
Tapi anehnya, sistem rekrutmen lama berpura-pura seolah ini normal.
Job Board Lama Tidak Peduli dengan Hasil Rekrutmen
Sebagian besar job board berhenti di satu titik: CV masuk.
Setelah itu?
- HR dibiarkan sendirian
- Tidak ada ringkasan
- Tidak ada pola
- Tidak ada insight
Job board dibayar saat lowongan tayang, bukan saat HR menemukan kandidat yang tepat. Jadi secara sistemik, mereka tidak punya insentif untuk memikirkan kualitas proses setelah CV terkumpul.
Akibatnya, HR sering berada di posisi ini:
“Kok yang daftar begini semua ya?”
Bukan karena pelamarnya salah. Tapi karena tidak ada alat untuk melihat gambaran besar.
Masalah Terbesar: Tidak Ada Ringkasan Keputusan
Ini titik krusial yang sering diabaikan.
Dalam rekrutmen tradisional:
- CV terpisah-pisah
- Penilaian tersebar
- Catatan ada di kepala HR
- Insight hilang setelah lowongan ditutup
Tidak ada dokumen yang menjawab:
- Tipe kandidat apa yang paling banyak melamar?
- Skill apa yang sering muncul?
- Kenapa kandidat A lolos, kandidat B tidak?
- Apakah lowongan ini memang realistis?
Akhirnya rekrutmen jadi aktivitas sekali jalan, bukan proses belajar.
Saat AI Masuk, Tapi Bukan untuk Menggantikan HR
Di sinilah saya mulai tertarik dengan pendekatan baru. Bukan AI yang “menggantikan HR”, tapi AI yang mengangkat beban awal.
Teleworks.id menarik bukan karena janji bombastis, tapi karena pendekatannya realistis:
AI bekerja di tahap yang memang melelahkan untuk manusia, lalu HR masuk di tahap yang membutuhkan kebijaksanaan.
AI di Teleworks:
- Membaca seluruh pelamar secara konsisten
- Tidak capek
- Tidak terdistraksi
- Tidak punya mood
- Tidak bias jam makan siang
Ini bukan soal AI lebih pintar dari manusia. Ini soal AI lebih stabil untuk pekerjaan repetitif.
Yang Berubah Saat Pasang Loker dengan Bantuan AI
Perubahan pertama bukan kecepatan. Tapi kejernihan.
Alih-alih membuka CV satu per satu tanpa konteks, HR langsung melihat:
- Ringkasan keseluruhan pelamar
- Pola skill yang masuk
- Segmentasi kandidat
- Rekomendasi prioritas
HR tidak lagi bertanya “mulai dari mana?”, tapi “siapa yang ingin saya lihat lebih dalam?”
Ini pergeseran besar dalam cara kerja.
Mengurangi Decision Fatigue yang Selama Ini Dianggap Normal
Satu hal yang jarang dibahas: decision fatigue.
Setiap CV adalah keputusan kecil:
- Baca atau skip
- Menarik atau tidak
- Potensial atau tidak
Ratusan keputusan kecil ini menggerogoti kualitas keputusan besar di akhir.
Dengan AI di Teleworks, HR tidak lagi masuk ke proses dalam kondisi lelah. HR masuk dengan otak masih segar, karena beban awal sudah disaring secara konsisten.
Ironisnya, keputusan akhir justru jadi lebih manusiawi, karena dibuat saat HR masih jernih.
Laporan Rekrutmen yang Selama Ini Tidak Pernah Ada
Ini bagian yang menurut saya paling penting, tapi sering diremehkan: laporan.
Teleworks tidak berhenti di rekomendasi kandidat. Sistem ini menghasilkan laporan rekrutmen yang bisa dibaca, disimpan, dan dijelaskan ke atasan.
Laporan ini menjawab:
- Berapa pelamar masuk
- Bagaimana distribusi kualitas
- Kenapa kandidat tertentu direkomendasikan
- Insight tentang market kandidat
Ini mengubah posisi HR. Dari “bagian operasional” menjadi partner strategis.
HR tidak lagi berkata:
“Ini feeling saya.”
Tapi bisa berkata:
“Ini ringkasan data dan pertimbangan.”
Rekrutmen Jadi Proses Belajar, Bukan Sekadar Mengisi Kursi
Dengan laporan yang terdokumentasi, rekrutmen berhenti menjadi aktivitas reaktif.
Perusahaan bisa mulai belajar:
- Apakah deskripsi kerja terlalu tinggi?
- Apakah gaji tidak kompetitif?
- Apakah channel lowongan sudah tepat?
Ini nilai jangka panjang yang jarang dibicarakan, karena tidak langsung terlihat di hari pertama.
AI Bukan Jalan Pintas, Tapi Alat Pendewasaan Sistem
Saya tidak percaya AI adalah solusi ajaib. Dan Teleworks pun tidak menjual mimpi itu.
Yang ditawarkan adalah alat bantu untuk membuat proses rekrutmen lebih dewasa:
- Lebih reflektif
- Lebih terdokumentasi
- Lebih konsisten
HR tetap memutuskan. Hiring manager tetap berperan. Tapi sekarang, mereka berdiskusi dengan dasar yang lebih jelas.
Penutup: Pasang Loker Itu Mudah. Bertanggung Jawab atas Keputusan Itu yang Sulit.
Setelah 10 tahun di HR, saya belajar satu hal:
Rekrutmen bukan soal menemukan orang sempurna, tapi membuat keputusan terbaik dengan informasi yang tersedia.
Masalahnya, selama ini informasi itu tercebar, tidak dirangkum, dan cepat hilang.
Pendekatan seperti yang dilakukan Teleworks.id tidak membuat rekrutmen jadi instan. Tapi membuatnya lebih masuk akal, lebih adil, dan lebih bisa dipertanggungjawabkan.
Dan jujur saja, sebagai HR yang sudah cukup lama capek, itu sudah lebih dari cukup. (*adv)
