Jasa LangsungKlik.id

Defisit APBN Tembus Rp 240,1 Triliun per Maret 2026, Pemerintah Sebut Sesuai Desain Awal

Defisit APBN Tembus Rp 240,1 Triliun per Maret 2026, Pemerintah Sebut Sesuai Desain Awal
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.

LangsungKlik.id, Jakarta – Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tercatat mencapai Rp 240,1 triliun hingga Maret 2026 atau setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kondisi tersebut sudah sesuai dengan desain awal anggaran pemerintah, Senin (6/4/2026).

Purbaya menjelaskan, defisit pada awal tahun merupakan hal yang wajar karena struktur belanja negara biasanya lebih cepat terealisasi dibandingkan pendapatan.

“Jadi ketika ada defisit masyarakat bapak ibu jangan kaget. Memang anggaran kita desain defisit,” ujarnya dalam rapat kerja bersama DPR.

Pendapatan dan Belanja Negara

Dari sisi pendapatan, negara telah mengantongi Rp 574,9 triliun atau 18,2 persen dari target tahunan sebesar Rp 3.153,6 triliun. Angka ini tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, belanja negara tercatat mencapai Rp 815 triliun atau 21,2 persen dari pagu anggaran. Realisasi ini meningkat signifikan sebesar 31,4 persen secara tahunan.

Kondisi tersebut menyebabkan defisit pada awal tahun karena laju belanja lebih tinggi dibandingkan penerimaan negara.

Keseimbangan Primer dan Pembiayaan

Selain defisit APBN, keseimbangan primer juga mencatat defisit sebesar Rp 95,8 triliun. Di sisi lain, pembiayaan anggaran telah terealisasi Rp 257,4 triliun atau 37,3 persen dari target yang ditetapkan.

Pemerintah menilai realisasi pembiayaan tersebut masih dalam jalur yang direncanakan untuk menjaga stabilitas fiskal sepanjang tahun.

Ekonomi Dinilai Tetap Solid

Meski defisit terjadi, pemerintah menilai kondisi ekonomi domestik masih cukup kuat. Sejumlah indikator menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah tekanan global.

Aktivitas industri, misalnya, masih berada di zona ekspansi dengan indeks PMI manufaktur di level 51,1 pada Maret 2026. Selain itu, likuiditas juga meningkat dengan pertumbuhan uang beredar mendekati 20 persen secara tahunan.

Pertumbuhan kredit investasi bahkan mencapai 20,7 persen, menunjukkan aktivitas ekonomi yang masih bergairah.

Baca Juga :  Serangan ke Iran Guncang Pasar Keuangan Dunia, Harga Minyak dan Gas Melonjak

Daya Beli dan Sektor Eksternal Terjaga

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan masih mencatat surplus dan cadangan devisa berada pada level aman setara 5,9 bulan impor.

Sementara itu, daya beli masyarakat dinilai tetap terjaga. Hal ini tercermin dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga, penjualan ritel, hingga penjualan kendaraan.

Pemerintah menyebut tekanan inflasi saat ini lebih dipengaruhi faktor teknis, seperti efek basis, dan bukan karena melemahnya fundamental ekonomi nasional. (*)

Seedbacklink
Channel WhatsApp LangsungKlik.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *