Harga Plastik Naik Gila-gilaan, Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Produksi

Pasokan Nafta Tersendat akibat Gangguan di Selat Hormuz, Harga Plastik Melonjak hingga 50 Persen

Harga Plastik Naik Gila-gilaan, Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Produksi
Potret salah satu warung kelontong yang tidak memberikan kresek untuk pembelian di bawah Rp5 ribu. (Foto: Instagram)

LangsungKlik.id – Harga plastik di pasaran melonjak drastis dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku global akibat konflik di Timur Tengah, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz. Dampaknya mulai dirasakan oleh pedagang hingga pelaku usaha kecil di berbagai sektor.

Lonjakan harga tidak lagi dalam skala kecil. Pedagang plastik, pelaku usaha makanan, minuman kemasan, hingga laundry mulai mengeluhkan kenaikan biaya produksi yang signifikan.

Distribusi Nafta Tersendat

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik, Fajar Budiono, mengungkapkan bahwa penyebab utama kenaikan harga adalah tersendatnya distribusi nafta sebagai bahan baku utama plastik.

“Sekarang akibat perang kan terus yang pertama Selat Hormuz kan ketutup sehingga bahan baku berupa nafta yang 70 persen itu datangnya dari Middle East (Timur Tengah) jadi tidak bisa terkirim ke para industri petrokimia,” katanya.

Ia menjelaskan, nafta merupakan turunan minyak bumi yang menjadi bahan dasar berbagai jenis plastik seperti polietilen (PE) dan polipropilena (PP). Ketika pasokan terganggu, harga bahan baku langsung melonjak di pasar global.

Harga Bahan Baku Naik Signifikan

Kenaikan harga minyak mentah dunia turut memperparah kondisi ini. Dalam beberapa hari terakhir, harga polietilen dan polipropilena disebut naik dua digit, bahkan mencapai 30 hingga 50 persen di beberapa kategori.

Direktur Polietilen di Independent Commodity Intelligence Services, Harrison Jacoby, menjelaskan besarnya ketergantungan industri global terhadap jalur distribusi tersebut.

“Sekitar 84% kapasitas polietilen Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor melalui jalur laut,” jelasnya.

Kawasan Timur Tengah sendiri menyumbang sekitar seperempat ekspor global untuk bahan baku plastik. Gangguan di wilayah ini langsung berdampak pada pasokan dunia.

Dampak Mulai Dirasakan Konsumen

Kenaikan harga plastik berpotensi merembet ke harga barang konsumsi. Plastik menjadi komponen penting dalam kemasan berbagai produk sehari-hari.

Profesor dari Syracuse University, Patrick Penfield, menyebut produk konsumsi akan menjadi yang pertama terdampak kenaikan harga.

“Akibatnya, produk-produk seperti peralatan makan sekali pakai, minuman dalam botol, dan kantong sampah bisa menjadi yang pertama mengalami kenaikan harga dalam beberapa minggu mendatang,” paparnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga ini berpotensi dirasakan langsung oleh masyarakat melalui produk seperti air minum kemasan, makanan siap saji, hingga jasa laundry yang menggunakan plastik.

Jika gangguan distribusi di Selat Hormuz terus berlanjut, harga plastik diperkirakan masih akan bertahan tinggi. Kondisi ini tidak hanya menekan pelaku usaha, tetapi juga berpotensi meningkatkan harga kebutuhan sehari-hari di tingkat konsumen. (*)

Exit mobile version