LangsungKlik.id – Perkara yang menyeret Amsal Christy Sitepu bukan sekadar persoalan hukum semata. Di balik itu, tersimpan realita yang selama ini dirasakan banyak pelaku industri kreatif: bekerja dengan tuntutan tinggi, tetapi dihargai sangat rendah. Di tengah era digital yang menjadikan konten sebagai ujung tombak komunikasi, justru ide dan proses kreatif masih kerap dipandang sebelah mata.
Fenomena ini menunjukkan adanya jarak antara kebutuhan akan kreativitas dan cara sistem menghargainya. Banyak proyek membutuhkan hasil kreatif yang menarik dan profesional, tetapi tidak diiringi dengan pemahaman terhadap proses di baliknya.
Perkara yang Menjerat Kreator
Dalam kasus ini, Amsal Christy Sitepu merupakan pihak swasta yang terlibat dalam pengerjaan video profil desa serta layanan komunikasi informatika di Kabupaten Karo.
Ia didakwa atas dugaan:
- ketidaksesuaian anggaran dalam RAB
- hasil pekerjaan yang dinilai tidak sesuai kontrak
- serta dugaan kerugian negara hingga ratusan juta rupiah
Jaksa penuntut umum mengajukan tuntutan berupa pidana penjara sekitar dua tahun, disertai denda dan kewajiban membayar uang pengganti.
Di sisi lain, Amsal menyatakan bahwa dirinya hanya menjalankan peran sebagai penyedia jasa kreatif. Ia mengerjakan proyek berdasarkan permintaan dan tidak merasa melakukan pelanggaran. Pernyataan ini memperlihatkan adanya perbedaan cara pandang antara pelaku kreatif dan sistem yang mengaturnya.
Ide yang Tidak Pernah Dihitung
Persoalan mendasar terletak pada cara kerja sistem anggaran. Semua hal dituntut untuk terukur dan terinci, mulai dari jumlah item hingga harga satuan. Namun, kreativitas tidak memiliki standar ukuran yang pasti.
Tidak ada parameter baku untuk menilai:
- proses pencarian ide
- pengembangan konsep
- waktu produksi dan revisi
- pengalaman profesional
Akhirnya, seluruh proses tersebut diringkas menjadi angka yang sering kali tidak merepresentasikan nilai sebenarnya. Di sinilah pekerja kreatif mulai dirugikan, karena aspek paling penting dari pekerjaannya justru tidak masuk dalam perhitungan.
Peran Penting yang Masih Dianggap Tambahan
Di banyak proyek, terutama yang bersifat formal, kerja kreatif masih sering diposisikan sebagai pelengkap. Fokus utama biasanya diberikan pada pembangunan fisik atau kebutuhan teknis lainnya.
Padahal, di era saat ini, konten kreatif justru berperan besar dalam membentuk citra dan menyampaikan pesan kepada publik. Tanpa pendekatan kreatif yang kuat, sebuah program bisa kehilangan daya tarik dan sulit dipahami masyarakat.
Ketimpangan ini membuat peran penting kreator tidak diimbangi dengan penghargaan yang layak.
Ekspektasi Tinggi, Apresiasi Minim
Pekerja kreatif kerap dihadapkan pada tuntutan yang tidak ringan. Mereka diminta menghasilkan karya yang menarik, komunikatif, dan sesuai tren. Namun, ketika berbicara soal biaya, sering kali muncul tekanan untuk menurunkan nilai jasa.
Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman. Banyak pihak masih melihat hasil akhir tanpa memahami proses panjang di baliknya. Akibatnya, kreativitas dianggap sebagai sesuatu yang mudah dan cepat dibuat.
Posisi Rentan di Tengah Sistem
Kasus Amsal Christy Sitepu juga memperlihatkan posisi rentan pekerja kreatif dalam sebuah proyek. Mereka bukan pengambil keputusan utama, tetapi tetap bisa ikut terseret ketika terjadi persoalan.
Kondisi ini menempatkan kreator dalam situasi yang sulit. Di satu sisi mereka harus mengikuti sistem yang ada, di sisi lain mereka menghadapi risiko yang tidak kecil.
Gambaran Masalah yang Lebih Luas
Apa yang terjadi mencerminkan kondisi ekosistem kreatif yang belum sepenuhnya matang. Beberapa faktor yang berkontribusi antara lain:
- belum adanya standar harga yang jelas
- persaingan harga yang tidak sehat
- kurangnya pemahaman terhadap nilai kerja kreatif
Situasi ini membuat kreativitas sering kali dinilai hanya dari sisi biaya, bukan dari kualitas dan proses yang dihasilkan.
Perlunya Perubahan Cara Pandang
Kasus Amsal Christy Sitepu dapat menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana kerja kreatif dihargai. Bukan sekadar menilai dari hasil akhir, tetapi juga memahami proses yang menyertainya.
Jika cara pandang ini tidak berubah, maka kondisi serupa akan terus terjadi. Pekerja kreatif akan tetap berada dalam posisi yang kurang menguntungkan, sementara kebutuhan terhadap kreativitas justru semakin meningkat.
Pada akhirnya, menghargai kreativitas bukan hanya soal angka, tetapi tentang mengakui bahwa ide dan proses adalah bagian penting yang menentukan kualitas sebuah karya. (Anonim/*)






