LangsungKlik.id – KH.Hasyim Asy’ari dikenal sebagai ulama kharismatik asal Jombang yang menorehkan jejak besar dalam pendidikan Islam, pendirian organisasi keagamaan, serta perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. lahir di Dusun Gedang, Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur, pada 14 Februari 1871 (24 Dzulqa’dah 1287 H) dan wafat pada 25 Juli 1947 (7 Ramadhan 1366 H). Ia dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Tebuireng (1899) dan Rais Akbar pertama Nahdlatul Ulama (31 Januari 1926).
Melalui pendidikan, organisasi, dan fatwa perjuangan, ia membentuk fondasi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus menggerakkan perlawanan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Rihlah Ilmiah dan Formasi Keulamaan
KH.Hasyim Asy’ari tumbuh dalam keluarga pesantren. Sejak kecil ia belajar kepada ayahnya, Kiai Asy’ari, dan para kiai di Jawa serta Madura. Pada usia muda, ia menempuh rihlah ilmiah ke Makkah untuk memperdalam fikih, tafsir, dan terutama hadis. Penguasaan hadis menjadi ciri keilmuannya yang menonjol dan kelak mewarnai kurikulum serta tradisi intelektual yang ia bangun di tanah air.
Sekembalinya ke Nusantara, ia membawa jejaring keilmuan Hijaz dan tradisi sanad yang kuat. Otoritas ilmiahnya diakui luas di kalangan pesantren, menjadikannya rujukan dalam persoalan keagamaan dan pendidikan.
Tebuireng: Pusat Kaderisasi Ulama dan Pemimpin
Pada 1899, ia mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang. Saat itu, lingkungan sekitar dikenal sebagai wilayah yang keras dan minim akses pendidikan. Pesantren yang dirintisnya tumbuh pesat menjadi pusat kaderisasi ulama, guru, dan pemimpin masyarakat.
Model pendidikan Tebuireng menekankan disiplin, penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, serta adab santri kepada guru. Kitab-kitab turats diajarkan secara sistematis dengan penekanan pada pemahaman mendalam, bukan sekadar hafalan. Dalam perkembangannya, Tebuireng juga membuka ruang bagi pelajaran umum untuk menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan tradisi.
Dari rahim Tebuireng lahir banyak tokoh yang berkiprah di bidang keagamaan dan kebangsaan. Pesantren ini menjadi simpul penting jaringan ulama Nusantara pada awal abad ke-20.
Lahirnya Nahdlatul Ulama dan Penguatan Moderasi
Dinamika dunia Islam pada 1920-an, termasuk perubahan politik di Timur Tengah, mendorong para ulama Nusantara membentuk wadah bersama. Pada 31 Januari 1926, KH.Hasyim Asy’ari bersama para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama. Ia dipercaya sebagai Rais Akbar pertama, otoritas tertinggi bidang keagamaan dalam struktur organisasi.
NU dibangun untuk menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, mempertahankan praktik keagamaan lokal yang berakar pada mazhab, serta merespons arus pembaruan global secara proporsional. Di bawah kepemimpinannya, NU berkembang dengan basis pesantren yang kuat dan jaringan sosial yang luas.
Peran KH.Hasyim Asy’ari tidak sebatas simbolik. Ia menjadi rujukan fatwa dan arah moral organisasi. Sikapnya menekankan moderasi, keseimbangan antara teks dan konteks, serta komitmen kebangsaan yang tegas.
Sikap Tegas di Masa Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, KH.Hasyim Asy’ari menunjukkan keteguhan prinsip. Ia sempat ditahan karena menolak melakukan penghormatan kepada simbol kekuasaan Jepang yang dinilai bertentangan dengan keyakinan agama. Penahanan tersebut memicu solidaritas luas di kalangan santri dan ulama hingga akhirnya ia dibebaskan.
Peristiwa ini memperlihatkan konsistensinya dalam menjaga akidah sekaligus martabat bangsa di tengah tekanan politik.
Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
Pascaproklamasi 17 Agustus 1945, ancaman kembalinya kekuasaan kolonial memicu ketegangan di berbagai daerah. Pada 22 Oktober 1945, KH.Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad yang menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban agama bagi umat Islam, terutama yang berada di sekitar medan pertempuran.
Seruan tersebut membakar semangat santri dan rakyat, terutama dalam perlawanan di Surabaya pada November 1945. Resolusi Jihad kemudian dikenang sebagai tonggak penting peran ulama dalam mempertahankan kedaulatan Republik.
Karya dan Warisan Intelektual
Selain kiprah organisasi dan perjuangan, KH.Hasyim Asy’ari juga menulis sejumlah karya keagamaan, antara lain tentang adab santri, akidah, dan hadis. Ia menekankan pentingnya adab sebelum ilmu, penghormatan kepada guru, serta tanggung jawab sosial ulama.
Warisan itu diteruskan oleh generasi berikutnya. Putranya, KH.Wahid Hasyim, berperan dalam pemerintahan Republik Indonesia dan menjadi Menteri Agama. Cicitnya, KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur), kelak menjadi Presiden keempat Republik Indonesia.
Penetapan sebagai Pahlawan Nasional
Atas kontribusinya dalam pendidikan, organisasi, dan perjuangan kemerdekaan, KH.Hasyim Asy’ari ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964. Pengakuan ini menegaskan posisinya sebagai ulama yang tidak hanya membina umat, tetapi juga menjaga fondasi kebangsaan.
Jejak kiprah KH.Hasyim Asy’ari menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi pusat pembentukan karakter, penguatan tradisi, dan motor pergerakan nasional. Dari Tebuireng hingga Resolusi Jihad, perannya memperlihatkan sinergi antara iman, ilmu, dan keberpihakan pada kemerdekaan. Menelusuri perjalanan hidupnya memberi pemahaman bahwa ulama memiliki posisi strategis dalam merawat identitas keislaman sekaligus meneguhkan kedaulatan Indonesia. (*)







