LangsungKlik.id – Zaman Keemasan Islam merupakan periode penting dalam sejarah dunia ketika peradaban Islam tampil sebagai pusat ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemikiran global. Periode ini berlangsung sekitar abad ke-8 hingga abad ke-13 Masehi, terutama pada masa Dinasti Abbasiyah. Saat sebagian besar wilayah Barat masih berkutat dengan keterbelakangan intelektual, dunia Islam justru melesat jauh dengan tradisi ilmiah yang kuat dan terbuka.
Namun, kejayaan tersebut kini lebih sering dikenang sebagai cerita masa lalu. Kondisi umat Islam saat ini menunjukkan kontras yang tajam dengan semangat keilmuan pada masa keemasan. Artikel ini tidak hanya mengulas kejayaan tersebut, tetapi juga mengajukan kritik terhadap realitas umat Islam di era modern.
Baghdad dan Lahirnya Pusat Ilmu Dunia
Baghdad menjadi simbol utama Zaman Keemasan Islam. Kota ini berkembang pesat setelah berdirinya Baitul Hikmah, lembaga yang berfungsi sebagai pusat penerjemahan, riset, dan diskusi ilmiah. Karya-karya dari Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, lalu dikaji secara kritis.
Yang membedakan dunia Islam kala itu adalah keberanian untuk belajar dari peradaban lain tanpa kehilangan identitas. Ilmu asing tidak ditolak, tetapi disaring dan dikembangkan. Sikap terbuka inilah yang menjadikan Baghdad pusat pengetahuan dunia selama berabad-abad.
Ilmuwan Muslim dan Fondasi Ilmu Modern
Zaman Keemasan Islam melahirkan banyak ilmuwan besar yang pengaruhnya masih terasa hingga kini. Al-Khawarizmi memperkenalkan aljabar dan konsep algoritma. Ibnu Sina menulis Al-Qanun fi at-Tibb yang menjadi rujukan medis di Eropa. Ibnu Al-Haytham mengembangkan metode ilmiah berbasis observasi dan eksperimen.
Kemajuan tidak hanya terjadi di satu bidang. Astronomi, kimia, teknik, geografi, hingga filsafat berkembang pesat. Rumah sakit, observatorium, dan sistem pendidikan dibangun secara terstruktur. Ilmu pengetahuan diposisikan sebagai sarana memahami ciptaan Tuhan, bukan sebagai ancaman bagi iman.
Ilmu dan Iman Berjalan Beriringan
Salah satu kunci kejayaan Islam pada masa itu adalah keseimbangan antara iman dan rasio. Para ulama sekaligus ilmuwan melihat belajar sebagai bagian dari ibadah. Tidak ada dikotomi tajam antara ilmu agama dan ilmu dunia. Justru keduanya saling melengkapi.
Pandangan ini mendorong umat Islam untuk terus belajar, meneliti, dan berinovasi. Tradisi berpikir kritis tumbuh subur, debat ilmiah dianggap wajar, dan perbedaan pandangan tidak langsung dicap sebagai penyimpangan.
Kondisi Umat Islam Saat Ini: Berbalik Arah
Kondisi tersebut kini sulit ditemukan dalam realitas umat Islam modern. Di banyak tempat, semangat keilmuan melemah, sementara perdebatan simbolik dan romantisme masa lalu justru menguat. Sejarah kejayaan sering dibanggakan, tetapi semangat yang melahirkannya justru ditinggalkan.
Sebagian umat terjebak pada pemujaan adat dan tradisi tanpa pembaruan. Teknologi dan sains modern kerap dicurigai, bahkan ditolak, dengan alasan menjaga nilai. Akibatnya, umat Islam lebih banyak menjadi konsumen teknologi daripada pencipta. Dunia bergerak cepat, sementara sebagian umat memilih bertahan di zona nyaman.
Kritik atas Sikap Anti-Ilmu dan Anti-Teknologi
Sikap anti-ilmu dan anti-teknologi menjadi salah satu masalah serius. Penolakan terhadap perkembangan zaman sering dibungkus dengan dalih agama, padahal sejarah justru menunjukkan bahwa Islam berjaya karena keterbukaan terhadap ilmu.
Ironisnya, peradaban Barat yang kini memimpin inovasi justru membangun fondasinya dari warisan keilmuan Islam. Sementara itu, umat Islam sendiri tertinggal karena enggan beradaptasi. Menolak belajar teknologi bukanlah bentuk keteguhan iman, melainkan tanda keengganan untuk berbenah.
Pelajaran dari Zaman Keemasan Islam
Zaman Keemasan Islam seharusnya menjadi cermin, bukan sekadar nostalgia. Kejayaan masa lalu tidak akan kembali hanya dengan kebanggaan historis. Ia menuntut kerja keras, keberanian berpikir, dan kemauan untuk belajar sesuai tuntutan zaman.
Menghidupkan kembali semangat keemasan berarti membangun tradisi ilmu, menguasai teknologi, dan menjadikan pengetahuan sebagai bagian dari kehidupan beragama. Tanpa itu, kisah kejayaan Islam akan terus menjadi cerita indah yang tak pernah benar-benar hidup di masa kini. (*)
