Gus Hayid Dorong NU Aktif Hadapi Transformasi Sosial dan Geopolitik, Muktamar ke-35 Diminta Tak Sekadar Pilih Ketua Umum

Gus Hayid Dorong NU Aktif Hadapi Transformasi Sosial dan Geopolitik, Muktamar ke-35 Diminta Tak Sekadar Pilih Ketua Umum
Komisioner BNSP, KH.Muhammad Nur Hayid. Foto : Instagram @gushayid80
Jasa LangsungKlik.id

LangsungKlik.id, Jakarta – Kader Nahdlatul Ulama (NU) yang juga menjabat sebagai Anggota Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Muhammad Nur Hayid atau Gus Hayid, mendorong agar Muktamar NU ke-35 menjadi momentum transformasi organisasi dalam menghadapi perubahan sosial, teknologi, hingga geopolitik global. Menurutnya, forum tertinggi NU tersebut tidak cukup hanya membahas pergantian kepemimpinan, tetapi juga harus menghasilkan langkah strategis untuk masa depan organisasi dan umat.

Gagasan tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Yayasan Talibuana Nusantara di Kantor Yayasan Talibuana Nusantara, Komplek Ligamas Blok G/20, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026). Diskusi mengangkat tema “NU Masa Depan & Masa Depan NU: Realisasi Merawat Jagat, Membangun Peradaban” sebagai bagian dari rangkaian menyambut Muktamar NU ke-35.

Kegiatan itu dihadiri sejumlah tokoh nasional dan tokoh NU, di antaranya Ketua Yayasan Talibuana Nusantara Endin AJ Soefihara, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Masykuri Abdillah, Ketua Umum PP IPNU periode 1988–1996 Zainut Tauhid Sa’adi, tokoh NU Sulawesi Selatan Andi Jamaro Dulung, mantan Anggota DPR RI Andi Najmi Fuadi, mantan Staf Khusus Wakil Presiden RI Masduki Baidlowi, Mujib Rohmat, Mayjen Fulad, Ketua PWNU DKI Jakarta Samsul Ma’arif, Ketua PWNU Sulawesi Utara Ulyas Taha, Wakil Ketua PWNU Jawa Barat Kurnia Permana Kusuma, Ketua Umum PB PMII periode 2005–2007 Hery Haryanto Azumi, serta sejumlah tokoh NU lainnya.

Baca Juga :  MWC NU Ngajum Resmi Lantik Pengurus LPNU Kecamatan Ngajum, Perkuat Kemandirian Ekonomi Umat
Suasana diskusi yang berlangsung dalam rangka Focus Group Discussion (FGD) menyambut Muktamar NU ke-35. Sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama dan berbagai elemen masyarakat tampak mengikuti pembahasan mengenai arah masa depan NU, transformasi sosial, serta tantangan geopolitik global di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Ketua Yayasan Talibuana Nusantara, Endin AJ Soefihara, menegaskan bahwa forum diskusi tersebut penting untuk menyamakan persepsi sekaligus membangun komitmen bersama dalam melakukan perbaikan bagi organisasi.

“Sebagai penyamaan persepsi diskusi ini menjadi sangat penting, namun lebih jauh dari itu komitmen kita untuk melakukan perbaikan harus betul-betul dibumikan,” ujarnya.

Dalam forum yang sama, Gus Hayid menilai NU tidak lagi cukup hanya menjadi organisasi yang melahirkan ide dan gagasan. Menurutnya, perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membuat berbagai gagasan dapat dijawab secara komprehensif melalui teknologi, sehingga NU harus mengambil peran yang lebih nyata dalam proses transformasi sosial maupun transformasi geopolitik.

Ia mengungkapkan adanya prediksi mengenai desain besar dunia menuju era tanpa batas negara atau stateless pada masa mendatang, di mana berbagai kebijakan strategis akan semakin dikendalikan secara global.

“Saya mendengar di 2030 ada desain besar Stateless. Tidak ada lagi quote unquote negara karena kebijakan apapun nanti akan dikontrol secara global, baik health policy maupun keputusan tentang kesehatan nanti WHO yang menentukan. Ketika ada negara yang menolak langsung nanti akan kena sanksi misalnya,” kata Gus Hayid.

Menurutnya, menghadapi tantangan tersebut NU membutuhkan figur pemimpin yang memiliki karakter kepemimpinan kuat dan mampu mengesampingkan kepentingan pribadi demi organisasi.

“Kalau masih ada kepentingan pribadi artinya problem internalnya gak selesai, saya kira problem konfliktual di NU akan terus berlanjut,” lanjutnya.

Gus Hayid juga mengajak seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang yang memiliki hak suara dalam Muktamar untuk benar-benar menggunakan mandatnya dalam menentukan arah organisasi ke depan. Ia menilai mereka memiliki peran penting dalam menjaga kedaulatan NU dan melahirkan perubahan yang signifikan.

“Ini kan menjadi tantangan betul apakah kedaulatan Nahdlatul Ulama ke depan melalui tangannya PBNU akan kita serahkan kepada beliau-beliau, atau mau dibikin ikhtiar lahir dan batin, pokoknya yang menentukan adalah seluruh pengurus wilayah dan pengurus cabang yang memiliki mandat hari ini untuk melakukan perubahan secara signifikan,” tegasnya.

Selain persoalan kepemimpinan, Gus Hayid berharap Muktamar NU ke-35 mampu menjadi forum yang menghasilkan rekomendasi strategis dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa dan dunia. Ia menilai isu kesejahteraan warga NU di akar rumput, khususnya petani, nelayan, dan kelompok masyarakat agraris lainnya, perlu mendapatkan perhatian serius di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat.

Menurutnya, pembahasan mengenai penguatan ekonomi warga NU dan kesiapan menghadapi tantangan nasional maupun internasional tidak kalah penting dibanding sekadar menentukan siapa yang akan menjadi ketua umum organisasi pada periode berikutnya.

“Maka saya kira isu-isu itu di muktamar nanti juga tidak kalah pentingnya untuk dibahas dan dicarikan rekomendasi solusinya daripada sekedar kita menentukan siapa calon ketua umum ke depan apalagi dengan bayang-bayang ini akan didukung oleh si A dan si B dan seterusnya,” pungkasnya.

(*/LangsungKlik.id)

Channel WhatsApp LangsungKlik.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

```
×
Install LangsungKlik.id
Akses berita lebih cepat langsung dari layar utama perangkat Anda.
Nanti Saja
```
Dapatkan Notifikasi OK Nanti