LangsungKlik.id, Jakarta – Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan tajam pada perdagangan Selasa (15/9/26). Harga minyak mentah Brent naik 2,9 persen menjadi US8,75 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik 4,4 persen menjadi US5,83 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi ketika pasar masih menghadapi ketidakpastian pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Gangguan pada infrastruktur energi Arab Saudi dan penghentian operasi sejumlah ladang minyak di Libya menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Pipa Arab Saudi Masih Jadi Perhatian
Salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga adalah penghentian operasi East-West Pipeline milik Arab Saudi. Pipa tersebut berhenti beroperasi setelah mengalami serangan pesawat nirawak pada pekan sebelumnya.
Jalur tersebut memiliki peran penting karena dapat mengalirkan minyak Saudi menuju Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz. Karena itu, gangguan pada pipa meningkatkan kekhawatiran terhadap kemampuan pasar mendapatkan pasokan alternatif.
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright memperkirakan gangguan pada pipa tersebut dapat berlangsung dalam hitungan hari. Namun, Arab Saudi belum memastikan kapan aliran minyak akan kembali normal.
Ketidakpastian tersebut membuat pasar terus mencermati perkembangan perbaikan infrastruktur energi Saudi. Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar pula kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan minyak dunia.
Produksi Libya Ikut Terganggu
Tekanan terhadap pasar minyak juga datang dari Libya. Penghentian operasi sejumlah ladang minyak membuat pasokan global kembali menghadapi risiko tambahan.
Gangguan tersebut terjadi ketika pasar energi masih terdampak konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Kondisi geopolitik tersebut membuat jalur distribusi dan produksi minyak menjadi semakin rentan terhadap gangguan.
Harga kontrak berjangka Brent bahkan telah meningkat sekitar tiga perempat sepanjang tahun ini. Sementara itu, harga minyak mentah fisik Dated Brent sempat melonjak melewati US$130 per barel pada pekan ini, level yang terakhir terlihat pada April.
Tekanan Mulai Merembet ke Ekonomi Global
Lonjakan harga minyak berpotensi memberikan tekanan lebih luas terhadap perekonomian global. Kenaikan biaya energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi sekaligus memperbesar tekanan inflasi.
Pasar juga mencermati dampaknya terhadap kebijakan bank sentral. Harga energi yang tinggi dapat membuat tekanan inflasi bertahan lebih lama sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Bagi Indonesia, perkembangan harga minyak dunia juga menjadi perhatian karena perubahan harga minyak internasional dapat memengaruhi biaya energi dan kondisi fiskal, meskipun harga minyak global tidak secara otomatis menentukan harga BBM di dalam negeri. (*)



