Kelangkaan BBM Pertalite di Pacitan, Warga Desa Pegunungan Keluhkan Dampak Ekonomi

Distribusi Terbatas di Wilayah Pegunungan, Pertamina Sebut Stok Aman

Kelangkaan BBM Pertalite di Pacitan, Warga Desa Pegunungan Keluhkan Dampak Ekonomi
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak jenis Pertalite di Pacitan.

LangsungKlik.id, Pacitan – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite terjadi di sejumlah desa di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dan telah berlangsung lebih dari sepekan. Kondisi ini terutama dirasakan masyarakat di wilayah pegunungan seperti Kecamatan Nawangan, Bandar, dan sebagian Arjosari yang kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi untuk kebutuhan sehari-hari maupun aktivitas pertanian.

Warga mengaku kesulitan memperoleh Pertalite karena stok di kios pengecer kosong, sementara pembelian di SPBU juga dibatasi, terutama untuk penggunaan jerigen. Situasi ini membuat masyarakat desa yang berada jauh dari pusat kota semakin terbebani karena harus menempuh jarak jauh hanya untuk mendapatkan BBM dalam jumlah terbatas.

Sejumlah petani menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka menilai pembatasan pembelian BBM menyulitkan operasional alat pertanian yang bergantung pada bahan bakar tersebut.

“Pihak SPBU melarang pembelian menggunakan jerigen. Tidak memperkenankan warga membeli dengan alasan apa pun,” kata Prasetyo, agen pengecer BBM di Nawangan.

Ia menambahkan, kondisi geografis pegunungan membuat warga kesulitan jika harus membeli BBM dalam jumlah kecil di SPBU. Menurutnya, petani juga tidak mungkin membawa alat pertanian hanya untuk pengisian BBM ke kota.

Dampak kelangkaan BBM ini turut merembet ke sektor ekonomi desa. Pedagang mengaku harus beralih menggunakan BBM nonsubsidi seperti Pertamax yang lebih mahal, sehingga harga kebutuhan pokok ikut mengalami kenaikan. Bahkan, beberapa komoditas dilaporkan naik hingga puluhan persen dibandingkan kondisi normal.

Ayu Lestari, pedagang sayur di Kecamatan Nawangan, menyebut kenaikan harga sudah terjadi sejak beberapa hari terakhir.

“Secara persis tidak tahu penyebabnya, tapi sejak Pertalite langka kami terpaksa pakai Pertamax. Otomatis harga jual juga ikut naik,” ujarnya.

Di sisi lain, petugas SPBU tetap menerapkan prosedur operasional standar (SOP) yang melarang pembelian menggunakan jerigen tanpa surat rekomendasi. Aturan ini menjadi salah satu faktor yang dikeluhkan warga.

Menanggapi kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa pasokan BBM di Kabupaten Pacitan dalam kondisi aman dan sesuai kuota pemerintah.

“Pelayanan di SPBU kami pastikan sesuai SOP yang berlaku. Tidak ada pembatasan, semua masyarakat tetap dilayani, termasuk segmen tertentu yang menggunakan surat rekomendasi,” ujar Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi.

Ia menyebutkan bahwa stok Pertalite di SPBU rata-rata masih tersedia sekitar 16 kiloliter dan penyaluran dilakukan secara berkala sesuai ketentuan BPH Migas.

Dengan kondisi ini, distribusi BBM di wilayah pegunungan Pacitan diharapkan dapat kembali normal melalui koordinasi antara pemerintah daerah dan pihak terkait agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. (*)

Exit mobile version
Dapatkan Notifikasi OK Nanti