LangsungKlik.id, Pacitan – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pacitan menyalurkan 4.000 liter air bersih kepada masyarakat Desa Klesem, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Kamis (17/9/2026). Bantuan tersebut diberikan untuk membantu warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih di tengah kondisi kekeringan.
Distribusi air dilakukan setelah warga menghadapi keterbatasan persediaan air untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus mencari dan mengantre air sejak dini hari.
PMII Pilih Turun Langsung
Ketua PMII Pacitan, Sunardi, mengatakan kebutuhan warga dalam kondisi tersebut harus direspons dengan tindakan nyata.
“Warga sekarang membutuhkan solusi. Kalau masyarakat kesulitan air, yang paling dibutuhkan adalah air. Kami memilih turun langsung membantu sesuai kemampuan kami,” ujar Sunardi.
Menurut dia, persoalan yang dihadapi masyarakat tetap perlu dibicarakan untuk menemukan solusi jangka panjang. Namun, ketika kebutuhan dasar warga sudah mendesak, bantuan langsung menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan.
Bagi PMII Pacitan, distribusi air tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekaligus respons atas kondisi yang sedang dihadapi warga Desa Klesem.
Warga Harus Bangun Dini Hari untuk Mencari Air
Kesulitan mendapatkan air membuat aktivitas warga Desa Klesem ikut berubah. Sebagian warga bahkan harus bangun sekitar pukul 03.00 untuk mencari air.
Mesirah, salah seorang warga, mengatakan dirinya pernah mengantre di tampungan air masjid. Namun, keterbatasan persediaan membuat warga satu dusun belum tentu memperoleh air.
“Kadang antre di tampungan air masjid itu sedusun sudah ndak kebagian. Kadang dari jam 3 pagi sudah bangun cepat-cepat cari air, kadang ya cuma kebagian satu ember,” tutur Mesirah.
Keterbatasan air membuat warga harus memprioritaskan penggunaannya. Kebutuhan seperti mandi, memasak, mencuci, dan aktivitas rumah tangga lainnya harus disesuaikan dengan persediaan yang ada.
Bantuan Air Jadi Penyangga Sementara
Mesirah juga menceritakan dampak kekeringan yang dirasakannya secara langsung. Ia mengaku pernah tidak mandi selama dua hari karena persediaan air di rumah habis.
“Kemarin sempat dua hari tidak bisa mandi, alhamdulillah akhirnya punya stok air untuk mandi,” kata Mesirah.
Bantuan 4.000 liter air tersebut kemudian menjadi tambahan persediaan bagi warga untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun, distribusi air bersih hanya menjadi solusi sementara selama sumber air warga belum kembali mencukupi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air pada musim kemarau, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Karena itu, selain bantuan dalam kondisi darurat, ketersediaan sumber air yang memadai tetap menjadi kebutuhan penting bagi warga. Penanganan jangka panjang diperlukan agar masyarakat tidak terus bergantung pada distribusi air ketika musim kemarau berlangsung.
Bagi warga Klesem, kebutuhan tersebut sangat sederhana: air yang cukup untuk mandi, memasak, mencuci, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. (*)



