LangsungKlik.id, Jakarta – Gelombang percobaan serangan terhadap sistem berbasis PHP meningkat tajam setelah dua kerentanan keamanan kritis pada bahasa pemrograman tersebut diungkap ke publik. Cloudflare melaporkan aktivitas eksploitasi meningkat dari ribuan percobaan menjadi jutaan dalam waktu singkat setelah informasi mengenai celah tersebut tersedia.
PHP merupakan teknologi yang banyak digunakan untuk membangun dan menjalankan layanan web. Karena itu, kerentanan pada komponen inti PHP berpotensi berdampak luas terhadap server dan layanan internet yang menggunakan versi yang belum diperbarui.
Dua celah tersebut tercatat sebagai CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619. Keduanya mendapat skor CVSS 9,2 dan dikategorikan sebagai kerentanan kritis.
Aktivitas Eksploitasi Melonjak
CEO Cloudflare Matthew Prince mengatakan jaringan perusahaannya telah melihat ribuan upaya eksploitasi bahkan sebelum kerentanan tersebut diumumkan secara terbuka.
Setelah pengumuman, jumlah percobaan meningkat menjadi puluhan ribu dalam 45 menit. Dalam dua jam berikutnya, aktivitas tersebut mencapai ratusan ribu dan kemudian meningkat hingga jutaan percobaan eksploitasi.
Kondisi tersebut membuat perusahaan dan lembaga pemerintah di sejumlah negara mempercepat langkah perlindungan. Beberapa organisasi bahkan mengambil layanan tertentu secara offline sebagai tindakan pencegahan sambil melakukan pemeriksaan dan pembaruan sistem.
Reuters melaporkan sejumlah bank, maskapai penerbangan, serta layanan publik di berbagai negara turut menerapkan langkah pengamanan. Sejumlah situs pemerintah di Eropa juga sempat dimatikan untuk mengurangi risiko serangan terhadap sistem yang belum diperbarui.
PHP Sudah Rilis Pembaruan Keamanan
Tim pengembang PHP telah merilis pembaruan keamanan pada 21 Oktober 2026 untuk mengatasi dua kerentanan tersebut. Versi yang telah diperbaiki mencakup PHP 8.5.12, 8.4.27, 8.3.36, dan 8.2.35.
Menurut pengembang PHP, kerentanan tersebut dapat memungkinkan eksekusi kode dari jarak jauh tanpa autentikasi pada instalasi tertentu yang menerima permintaan web. Risiko terutama berkaitan dengan server yang masih menggunakan versi rentan dan belum mendapatkan pembaruan.
Cloudflare juga telah menerapkan perlindungan melalui sistem Web Application Firewall (WAF). Perlindungan tersebut disiapkan sebelum kerentanan diumumkan kepada publik sebagai bagian dari koordinasi dengan sejumlah pihak keamanan siber.
Pemerintah dan Perusahaan Diminta Segera Memperbarui Sistem
Lonjakan aktivitas eksploitasi menunjukkan bahwa jarak antara pengungkapan kerentanan dan pemasangan pembaruan keamanan dapat menjadi periode berisiko bagi organisasi yang masih menggunakan sistem rentan.
Reuters melaporkan sejumlah badan keamanan siber mendesak administrator segera memasang pembaruan. Organisasi yang belum dapat melakukan pembaruan juga mengambil langkah mitigasi, termasuk membatasi akses terhadap layanan tertentu.
Bagi pengelola situs web, persoalan ini juga menjadi pengingat bahwa keamanan tidak hanya bergantung pada aplikasi atau CMS yang digunakan. Komponen server, termasuk versi PHP, perlu dipantau dan diperbarui secara berkala.
Jutaan percobaan eksploitasi yang tercatat Cloudflare belum berarti seluruh percobaan tersebut berhasil. Namun, peningkatan aktivitas setelah pengungkapan kerentanan memperlihatkan pentingnya segera menutup celah pada sistem yang masih menggunakan versi PHP terdampak. (*)



