LangsungKlik.id, Jember – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Sukorambi menggelar Kajian Rutin Triwulan pada Jumat (11/9/26). Kegiatan yang berlangsung di Kantor MWCNU Sukorambi tersebut mengangkat tema “Fiqih Pengkaderan dalam Bingkai Ahlussunnah wal Jamaah.”
Kajian ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kaderisasi di lingkungan PAC dan ranting Fatayat NU Sukorambi. Selain membahas pengkaderan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan membangun kekompakan antarkader.
Memperkuat Kader Berbasis Aswaja
Ketua PAC Fatayat NU Sukorambi, Nilna Mukarromah, mengatakan penguatan kaderisasi dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah penting untuk menjaga keberlanjutan organisasi.
Menurutnya, kader Fatayat tidak hanya perlu memiliki pemahaman keorganisasian, tetapi juga harus mampu berdaya dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Penguatan tersebut mencakup bidang ekonomi dan sosial.
“Penguatan kaderisasi dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah, terutama penguatan di bidang ekonomi dan sosial agar kader mampu berdaya dan berdampak,” ujar Nilna.
Ia juga mendorong pengurus dan kader untuk terus membangun sinergi dengan badan otonom (banom) NU lainnya. Kolaborasi dan kekompakan dinilai menjadi bagian penting dalam menjalankan amanah organisasi.
“Pesan saya untuk terus menguatkan saling kolaborasi, kompak, dan terus berkontribusi dalam melanjutkan amanah sebagai kader-kader NU,” ungkapnya.
Nilna berharap kajian tersebut dapat memberikan arahan dan bimbingan bagi kader Fatayat, khususnya pengurus PAC dan para ketua ranting.
Ia juga berharap Fatayat NU Sukorambi semakin mandiri dalam mengembangkan potensi kader, terutama melalui bidang ekonomi dan sosial.
Bahas Fiqih Pengkaderan
Sementara itu, Ali Murtadho, S.P., M.M., selaku pemateri, membahas sejumlah hal terkait strategi dan proses pengkaderan Fatayat NU.
Pembahasan tidak hanya menitikberatkan pada proses kaderisasi, tetapi juga penguatan pemahaman nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah serta pentingnya menjaga tradisi ke-NU-an sebagai landasan dalam menjalankan organisasi.
Ali menjelaskan pentingnya menyiapkan kader yang memiliki kapasitas, komitmen, dan tanggung jawab untuk meneruskan estafet organisasi.
Penguatan pondasi atau manhaj yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah juga menjadi bagian dari pembahasan. Hal tersebut dinilai penting agar kader memiliki pijakan yang kuat dalam menjalankan aktivitas organisasi maupun kehidupan bermasyarakat.
Selain itu, pemahaman dan penjagaan terhadap tradisi NU turut ditekankan sebagai bagian dari identitas organisasi. Tradisi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman secara teori, tetapi terus diamalkan dan diwariskan kepada kader berikutnya.
Mendorong Kader Berdaya
Melalui kajian rutin tersebut, PAC Fatayat NU Sukorambi mendorong agar proses kaderisasi tidak berhenti pada kegiatan formal. Kader diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang aktif, solid, mandiri, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan pengurus dan kader Fatayat NU di Kecamatan Sukorambi.
Sinergi dengan banom NU lainnya juga diharapkan terus diperkuat sehingga kader Fatayat mampu menjalankan amanah organisasi sekaligus memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat. (*)



