LangsungKlik.id, Surabaya – PW GP Ansor Jawa Timur menyesalkan pernyataan Setyo Budi Mularso, operator suara Aeromax asal Karanganyar, Jawa Tengah, terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur saat tampil dalam siaran langsung salah satu stasiun televisi nasional.
Pernyataan tersebut muncul dalam pembahasan mengenai polemik sound horeg dan sikap MUI Jawa Timur. Budi menyampaikan kritik terhadap MUI, namun pernyataannya kemudian menuai sorotan karena menggunakan kata kasar.
Wakil Sekretaris PW GP Ansor Jawa Timur, Ahmad Zainuddin, mengatakan perbedaan pendapat mengenai sound horeg maupun sikap MUI merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut harus dikomunikasikan dengan tetap menjunjung tinggi etika dan tata krama.
Ansor Minta Budi Minta Maaf
Zainuddin menegaskan bahwa kritik tetap dapat disampaikan secara keras, tetapi penghinaan terhadap ulama tidak dapat dibenarkan.
“Kritik boleh keras, tetapi menghina dan memaki ulama bukanlah cara yang dapat dibenarkan,” tegas Zainuddin dalam keterangan yang dimuat PW GP Ansor Jawa Timur.
Atas pernyataan tersebut, Ansor Jatim meminta Setyo Budi Mularso segera menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim KH Ma’ruf Khozin dan MUI Jawa Timur.
“Langkah ini penting agar masalah tidak meluas dan hubungan antar unsur masyarakat tetap terjaga dengan baik,” ungkapnya.
Menurut Zainuddin, penyelesaian persoalan seharusnya ditempuh melalui komunikasi dan dialog. Ia juga mengajak masyarakat tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Ingatkan Pentingnya Adab
Zainuddin mengingatkan bahwa Jawa Timur memiliki tradisi yang kuat dalam menghormati ulama sekaligus menjaga persaudaraan di tengah masyarakat.
“Karena itu, mari kita jaga mulut kita, menjunjung tinggi adab, menghormati ulama, dan menyelesaikan perbedaan melalui dialog yang bermartabat, perbedaan pandangan itu wajar, tetapi jangan sampai kehilangan sopan santun,” pungkasnya.
Respons tersebut disampaikan PW GP Ansor Jawa Timur setelah pernyataan Budi dalam program televisi menjadi perhatian publik.
Sementara itu, Budi kemudian menyampaikan permintaan maaf atas ucapannya dan mengaku khilaf. Polemik tersebut juga berlanjut dengan keputusan Budi untuk menjual perangkat sound horeg miliknya.
Perdebatan mengenai sound horeg sendiri tidak hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi juga menyangkut ketertiban masyarakat, dampak penggunaan suara berintensitas tinggi, serta bagaimana aktivitas tersebut dapat diselenggarakan dengan tetap memperhatikan lingkungan sosial. (*)



