LangsungKlik.id – Minum air yang cukup bukan hanya untuk menghilangkan rasa haus. Cairan dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi, termasuk membantu ginjal menyaring darah dan membuang zat sisa melalui urine.
Ketika asupan cairan tidak mencukupi, tubuh akan kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk. Salah satu tanda yang mudah diperhatikan adalah urine yang berubah menjadi lebih gelap dan jumlah buang air kecil yang berkurang.
Menurut NHS, tanda dehidrasi pada orang dewasa antara lain rasa haus, urine berwarna kuning tua dan berbau lebih kuat, lebih jarang buang air kecil, pusing, kelelahan, serta mulut, bibir, dan lidah yang terasa kering.
Jarang Minum dan Risiko Batu Ginjal
Salah satu dampak yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya risiko batu ginjal. Mayo Clinic menjelaskan bahwa batu ginjal dapat terbentuk ketika urine mengandung lebih sedikit air sehingga mineral dan garam lebih mudah membentuk kristal.
Dehidrasi atau tidak cukup minum setiap hari termasuk salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko batu ginjal. Karena itu, menjaga kecukupan cairan menjadi salah satu langkah penting untuk membantu mencegah terbentuknya batu.
Ketika tubuh kekurangan cairan, produksi urine juga dapat berkurang. Kondisi ini membuat urine menjadi lebih pekat sehingga zat-zat pembentuk batu lebih mudah terkonsentrasi.
Dehidrasi Berat Bisa Mengganggu Fungsi Ginjal
Masalahnya tidak berhenti pada batu ginjal. Dehidrasi berat dapat menurunkan volume cairan dalam tubuh dan menyebabkan aliran darah ke ginjal berkurang.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menjelaskan bahwa dehidrasi dapat menyebabkan tekanan darah sangat rendah. Berkurangnya aliran darah ke ginjal dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan cedera ginjal akut atau acute kidney injury.
Risiko tersebut juga perlu diperhatikan ketika seseorang mengalami muntah, diare, demam, berkeringat banyak, atau berada dalam kondisi panas tetapi tidak mengganti cairan yang hilang.
NIDDK juga mengingatkan bahwa penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen atau naproxen, ketika seseorang sedang mengalami dehidrasi dapat meningkatkan risiko cedera ginjal.
Kenali Tanda Tubuh Mulai Kekurangan Cairan
Masyarakat dapat memperhatikan sejumlah perubahan sederhana pada tubuh. Beberapa tanda yang umum antara lain:
- Sering merasa haus.
- Mulut, bibir, atau lidah terasa kering.
- Urine berwarna kuning tua atau lebih pekat.
- Urine berbau lebih kuat.
- Buang air kecil lebih jarang dari biasanya.
- Tubuh terasa lelah.
- Pusing atau sakit kepala.
NHS menyarankan minum secara teratur untuk mengurangi risiko dehidrasi. Salah satu indikator yang dapat diperhatikan adalah warna urine, dengan urine yang lebih pucat umumnya menunjukkan tubuh mendapatkan cukup cairan.
Namun, kebutuhan cairan setiap orang dapat berbeda. Cuaca panas, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, usia, serta kehilangan cairan akibat muntah atau diare dapat membuat kebutuhan cairan meningkat.
Jangan Menunggu Sampai Haus Berat
Kebiasaan menunda minum sampai merasa sangat haus sebaiknya dihindari, terutama ketika sedang beraktivitas atau berada di lingkungan panas.
Mayo Clinic menyebut minum cairan secara teratur dan meningkatkan asupan ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan dapat membantu mencegah dehidrasi.
Jika seseorang mengalami buang air kecil yang sangat sedikit, kebingungan, sangat mengantuk, pusing berat, atau tidak mampu mempertahankan cairan karena terus muntah, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian medis.
Pada akhirnya, jarang minum tidak berarti seseorang pasti mengalami penyakit ginjal. Namun, kekurangan cairan yang berulang dan terutama dehidrasi berat dapat memberikan tekanan pada fungsi tubuh, termasuk ginjal. Karena itu, memenuhi kebutuhan cairan secara teratur merupakan salah satu kebiasaan sederhana untuk membantu menjaga kesehatan tubuh dan saluran kemih. (*)



