LangsungKlik.id, Jakarta – ... < Baca Sebelumnya Kemenag sebelumnya juga tengah menyusun Peta Jalan Pesantren yang akan menjadi acuan kerja Ditjen Pesantren untuk lima hingga 10 tahun ke depan. Basnang Said menyebut peta jalan tersebut diarahkan pada tiga fungsi utama pesantren, yakni dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Artinya, Ditjen Pesantren memasuki fase yang membutuhkan kesinambungan antara struktur organisasi dan arah kebijakan. Tata kelola yang dibangun sejak awal akan menentukan bagaimana lembaga tersebut menerjemahkan kebijakan nasional ke dalam program yang benar-benar dirasakan pesantren.
Tantangan lainnya adalah menjaga komunikasi dengan pesantren yang memiliki karakter dan kebutuhan berbeda di berbagai daerah. Karena itu, arahan Menag agar Ditjen Pesantren memperkuat silaturahmi dengan pemangku kepentingan daerah menjadi bagian penting dari fase awal lembaga tersebut.
Target Perubahan dalam 100 Hari
Nasaruddin Umar juga memberikan target awal kepada Basnang Said. Dalam 100 hari pertama, Menag berharap ada perubahan positif yang dapat dirasakan setelah Ditjen Pesantren mulai menjalankan tugasnya.
“Dalam tempo 100 hari pondok pesantren ini ada kejutan-kejutan positif yang anda bisa lakukan, dan orang bisa merasakan, ‘Oh ini bedanya dulu dan sekarang’,” ujar Nasaruddin Umar.
Target tersebut membuat 100 hari pertama menjadi periode penting bagi Basnang Said. Selain menyelesaikan pekerjaan administratif dan membangun struktur organisasi, Ditjen Pesantren dituntut mulai menunjukkan bentuk kerja yang konkret.
Babak baru Ditjen Pesantren pada akhirnya tidak hanya akan diukur dari berdirinya lembaga dan lengkapnya struktur organisasi. Ukurannya juga terletak pada kemampuan lembaga tersebut membangun tata kelola yang efektif, menjaga komunikasi dengan pesantren, serta menghadirkan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan pesantren di berbagai daerah. (*)



