LangsungKlik.id, Jakarta – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031, Dr. KH. Muhammad Nur Hayid, menilai susunan kepengurusan baru mencerminkan keberagaman kekuatan yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU).
Gus Hayid mengatakan, komposisi tersebut diisi tokoh dengan berbagai latar belakang, mulai dari ulama, profesional hingga kader yang telah lama aktif dalam organisasi.
“Pertama saya melihat komposisi kepengurusan ini merangkul banyak kekuatan yang selama ini menjadi kekuatan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Ada representasi dari banyak kalangan dengan latar belakang yang beragam: keulamaan, profesional, dan tentu orang-orang yang sudah lama bekerja dan bergerak di keorganisasian,” ujar Gus Hayid.
Menurut dia, keberagaman tersebut dapat menjadi modal untuk menjalankan khidmah PBNU selama lima tahun ke depan.
“Semoga kombinasi dari tokoh-tokoh dan aktivis-aktivis NU dari berbagai latar belakang ini menjadi kekuatan tersendiri untuk optimisme pengurus PBNU lima tahun ke depan bisa bekerja lebih baik untuk khidmah memberikan pelayanan kepada warga Nahdliyin, kaum muslimin, dan tentu rakyat Indonesia,” katanya.
Kesinambungan dan Pembaruan
Gus Hayid menyebut kepengurusan baru tetap perlu menjaga kesinambungan sekaligus membuka ruang pembaruan. Prinsip tersebut, menurutnya, sejalan dengan kaidah al-muhafadhatu ‘alal qadimisshalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
Ia menyoroti keberlanjutan posisi Rais Aam dari periode sebelumnya, sementara jabatan ketua umum mengalami perubahan.
“Kebetulan Rais Aam-nya kan berlanjut dari periode yang lalu sampai insyaallah lima tahun ke depan, ketua umum yang berubah. Dan saya kira tantangan yang dihadapi oleh NU hari ini itu juga sama dengan tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita,” tutur pengasuh Pesantren Skill Jakarta, Lumajang dan Jember tersebut.
Menurut Gus Hayid, NU juga perlu memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam mengawal berbagai program strategis yang berdampak pada masyarakat.
“Eksistensi NU ke depan harus bersama-sama dengan pemerintah untuk mengawal program-program strategis yang membawa kemaslahatan dan kemanfaatan untuk seluruh rakyat, untuk umat, dan untuk seluruh bangsa Indonesia,” jelasnya.
Kesehatan dan SDM Jadi Perhatian
Salah satu bidang yang dinilai perlu mendapat perhatian adalah kesehatan. Gus Hayid mengatakan NU memiliki berbagai perangkat organisasi dan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas pelayanan kesehatan bagi warga.
“Kalau warga NU banyak yang punya problem kesehatan, saya kira PBNU ke depan harus konsen pada isu kesehatan. Karena ada kelembagaan sendiri yang mengurus soal kesehatan, ada LKKNU, ada asosiasi dokter dan seterusnya yang saya kira juga bisa kita kerahkan,” ucapnya.
Ia juga menyebut asosiasi rumah sakit NU sebagai salah satu unsur yang dapat dilibatkan dalam mempercepat peningkatan pelayanan kesehatan.
Selain kesehatan, penguatan sumber daya manusia (SDM) disebut menjadi tantangan penting bagi NU. Gus Hayid menilai organisasi harus mampu menyiapkan generasi yang memiliki kompetensi agar mampu mengikuti perubahan zaman.
“NU ke depan juga menghadapi problem tantangan SDM. Saya kira ini juga penting untuk menjadi konsentrasi utama, karena sekali kita gagal untuk menyiapkan SDM yang unggul dan kompeten, kita akan ditinggalkan oleh zaman,” tegas Komisioner BNSP tersebut.
Ia menambahkan, penguatan SDM harus tetap berangkat dari komitmen dasar NU untuk memberikan kemaslahatan yang lebih luas.
“Basisnya adalah Qanun Asasi, basisnya adalah komitmen bersama untuk khidmah bagaimana keberadaan NU memberi kemaslahatan lebih luas pada warga NU sendiri, pada umat Islam, pada bangsa dan negara,” katanya.
NU Didorong Siap Hadapi Super Intelligence
Tantangan lain yang disoroti Gus Hayid adalah perkembangan teknologi. Ia mendorong agar penguasaan teknologi informasi semakin diperkuat di lingkungan NU.
Menurutnya, perkembangan teknologi kini mulai bergerak menuju pembahasan super intelligence, yang dinilai melampaui perkembangan artificial intelligence (AI).
“Isu percepatan teknologi informasi untuk bisa masuk ke ruang-ruang dialektika maupun fungsionalnya keluarga besar NU. Jangan sampai ketika orang lain hari ini sudah berbicara soal super intelligence, tidak lagi artificial intelligence, tidak lagi AI tapi SI (super intelligence),” kata mantan Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI tersebut.
Gus Hayid menjelaskan, super intelligence berkaitan dengan perkembangan kemampuan mesin yang semakin maju dan dapat menggabungkan berbagai kemampuan dalam pemrosesan informasi.
“Ini adalah inteligensia yang sudah menggabungkan kemampuan manusia yang paling paripurna dengan kemampuan mesin. Dalam konteks cara berpikir, pasti enggak ada manusia yang bisa mengalahkan robot, mengalahkan artificial intelligence yang sudah menjadi super intelligence,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tetap harus berjalan bersama nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
“Tetapi hati tetap ciptaan Allah, jauh lebih bagus ciptaan Allah, jauh lebih keren,” tuturnya.
Dengan komposisi pengurus yang berasal dari berbagai latar belakang dan pengalaman lintas sektor, Gus Hayid berharap PBNU periode 2026–2031 mampu menjawab tantangan organisasi melalui program yang konkret, terukur, dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan warga NU maupun masyarakat luas. (*)



