LangsungKlik.id – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi akibat ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent tercatat berada di atas US$89 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak menuju US$84 per barel.
Penguatan harga minyak terjadi ketika pasar kembali mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran, termasuk ketidakpastian dalam pembicaraan gencatan senjata. Kekhawatiran semakin besar setelah adanya serangan terhadap kapal di jalur pelayaran strategis.
Brent Tembus US$89, WTI Menuju US$84
Reuters melaporkan harga minyak Brent naik 17 sen menjadi sekitar US$89,08 per barel, sedangkan minyak mentah WTI AS naik 20 sen menjadi US$83,40 per barel pada Rabu. Keduanya melanjutkan penguatan selama beberapa sesi perdagangan terakhir.
Sementara itu, laporan pasar lainnya mencatat Brent sempat berada di sekitar US$89,49 per barel, sedangkan WTI mencapai sekitar US$83,67 per barel. Perbedaan angka tersebut dapat terjadi karena harga minyak bergerak secara dinamis sepanjang sesi perdagangan.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar minyak masih memberikan premi risiko terhadap perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Serangan Kapal Picu Kekhawatiran Pasokan
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah adanya serangan terhadap dua kapal di kawasan jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak dari negara-negara produsen di Timur Tengah ke pasar internasional.
Reuters melaporkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz telah turun tajam. Jumlah kapal yang melintas tercatat hanya sekitar delapan kapal dalam sepekan, jauh di bawah kondisi sebelum konflik yang mencapai sekitar 125-140 kapal per hari.
Kondisi tersebut membuat investor semakin memperhatikan risiko gangguan pasokan.
Pembicaraan AS-Iran Belum Meredakan Pasar
Selain masalah pelayaran, pasar juga mencermati perkembangan pembicaraan antara AS dan Iran.
Ketidakpastian mengenai keberlanjutan gencatan senjata membuat investor masih berhati-hati. Jika ketegangan kembali meningkat, pasar memperkirakan risiko gangguan terhadap produksi dan distribusi minyak dari kawasan tersebut dapat kembali membesar.
Sebaliknya, kesepakatan diplomatik yang mampu menjamin keamanan jalur pelayaran berpotensi mengurangi premi risiko dan menekan harga minyak.
Situasi inilah yang membuat harga minyak bergerak volatil dalam beberapa pekan terakhir.
Stok Minyak AS Bertambah
Kenaikan harga minyak sebenarnya mendapat penahan dari data persediaan minyak mentah Amerika Serikat.
Data sementara dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat sekitar 9,1 juta barel. Jika angka tersebut dikonfirmasi oleh Energy Information Administration (EIA), peningkatan stok dapat memberikan tekanan terhadap harga karena menunjukkan pasokan domestik AS lebih besar dari perkiraan.
Namun, untuk sementara kekhawatiran mengenai pasokan global akibat konflik dan gangguan pelayaran lebih kuat memengaruhi sentimen pasar.
Dampaknya bagi Ekonomi Global
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena minyak mentah merupakan salah satu komoditas utama yang memengaruhi perekonomian global.
Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya transportasi dan produksi dapat meningkat. Kondisi tersebut kemudian berpotensi memberikan tekanan terhadap harga berbagai barang dan jasa.
Negara yang bergantung pada impor minyak juga menghadapi tantangan lebih besar karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan devisa dan biaya impor.
Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak dunia juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi biaya energi, anggaran subsidi, neraca perdagangan, serta harga berbagai komoditas yang berkaitan dengan energi.
Dengan Brent yang kembali berada di atas US$89 per barel dan WTI mendekati US$84 per barel, pasar minyak global masih menghadapi ketidakpastian tinggi. Perkembangan konflik dan diplomasi AS-Iran, keamanan Selat Hormuz, serta data persediaan minyak AS akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga minyak selanjutnya. (*)



