LangsungKlik.id, Jakarta – Investor asing kembali memburu saham di sejumlah pasar Asia pada Agustus 2026 setelah sembilan bulan berturut-turut mencatat arus keluar. Berdasarkan data LSEG yang dikutip Reuters, total pembelian bersih di tujuh pasar saham Asia mencapai US$4,72 miliar.
Indonesia termasuk pasar yang mendapat aliran dana asing tersebut. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih saham Indonesia sekitar US$68 juta sepanjang Agustus.
Perubahan arah investasi ini terjadi di tengah membaiknya kinerja sejumlah saham Asia, terutama sektor teknologi yang mendapat dorongan dari optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan kinerja perusahaan yang lebih kuat dari perkiraan.
Saham Teknologi Jadi Perhatian Investor
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang tercatat naik 3,01 persen pada Agustus. Kenaikan tersebut menjadi pemulihan setelah pasar mengalami tekanan pada bulan sebelumnya.
Reuters melaporkan, salah satu faktor yang mendorong minat investor adalah prospek perusahaan teknologi yang berkaitan dengan AI. Sejumlah perusahaan teknologi besar Amerika Serikat juga memberikan proyeksi yang memperkuat optimisme terhadap permintaan teknologi.
Kinerja korporasi Asia turut memberikan sentimen positif. Laba perusahaan-perusahaan di kawasan tersebut tumbuh 44,7 persen secara tahunan, sementara laba sektor teknologi melonjak 88,3 persen.
Taiwan menjadi salah satu pasar dengan aliran dana asing terbesar, mencapai US$11,15 miliar. India juga mencatat pembelian bersih sekitar US$3,1 miliar.
Indonesia Ikut Mendapat Aliran Dana
Indonesia mencatat arus masuk sekitar US$68 juta pada Agustus. Meski nilainya lebih kecil dibandingkan Taiwan maupun India, masuknya kembali dana asing menjadi perkembangan positif setelah periode panjang aksi jual di pasar saham Asia.
Namun, analis mengingatkan bahwa arus dana tersebut belum tentu menandai perubahan tren investasi yang berlangsung secara permanen. Minat investor saat ini masih banyak ditopang oleh sektor teknologi dan saham yang berkaitan dengan perkembangan AI.
Risiko pasar juga masih membayangi. Kenaikan imbal hasil obligasi, harga minyak yang tinggi, serta ketegangan geopolitik dapat memengaruhi selera investor terhadap aset berisiko dalam waktu dekat.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan dana asing di pasar Asia, termasuk Indonesia, masih akan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor dalam melihat arah pasar saham ke depan. (*)



