LangsungKlik.id, Jakarta – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus menunjukkan pertumbuhan pesat sepanjang 2026. Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS tumbuh 100,12 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, seiring semakin luasnya penggunaan pembayaran digital oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Lonjakan tersebut memperkuat indikasi bahwa masyarakat Indonesia semakin terbiasa melakukan pembayaran tanpa uang tunai. Namun, pertumbuhan QRIS belum berarti uang tunai sepenuhnya ditinggalkan.
Transaksi QRIS Tumbuh Lebih dari 100 Persen
Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital secara keseluruhan mencapai 16,07 miliar transaksi pada triwulan II 2026. Jumlah tersebut tumbuh 36,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di dalamnya, transaksi QRIS menjadi salah satu kanal yang mencatat pertumbuhan paling tinggi. Volume transaksi QRIS tumbuh 100,12 persen secara tahunan pada periode tersebut.
Pertumbuhan ini tidak berdiri sendiri. Ekosistem QRIS terus berkembang dengan bertambahnya jumlah pengguna dan merchant yang menerima pembayaran melalui kode QR.
Pada triwulan I 2026, Bank Indonesia mencatat QRIS telah menjangkau sekitar 61,7 juta pengguna dan 44 juta merchant. Mayoritas merchant tersebut merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Apakah Masyarakat Mulai Meninggalkan Uang Tunai?
Pertumbuhan transaksi QRIS memang menunjukkan adanya perubahan kebiasaan pembayaran. Masyarakat kini dapat membayar makanan, belanja, transportasi, hingga berbagai kebutuhan lainnya hanya menggunakan ponsel.
Bank Indonesia sendiri menjelaskan QRIS dikembangkan untuk membuat pembayaran lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal. Satu kode QRIS dapat digunakan untuk menerima pembayaran dari berbagai instrumen pembayaran yang tersedia.
Namun, kondisi tersebut belum bisa diartikan bahwa masyarakat Indonesia sudah meninggalkan uang tunai sepenuhnya.
Data Bank Indonesia menunjukkan Uang Kartal yang Diedarkan (UYD) masih mengalami pertumbuhan. Pada triwulan II 2026, UYD tercatat mencapai Rp1.315 triliun, tumbuh 14,03 persen secara tahunan.
Artinya, pembayaran digital dan uang tunai masih digunakan secara bersamaan. QRIS berkembang sangat cepat, tetapi uang fisik tetap memiliki peran dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
QRIS Makin Penting bagi UMKM
Salah satu alasan QRIS berkembang cepat adalah kemudahannya bagi pelaku usaha. Pedagang tidak harus menyediakan mesin pembayaran khusus untuk menerima transaksi digital.
Cukup dengan menyediakan QRIS, pelanggan dapat melakukan pembayaran melalui aplikasi pembayaran yang mendukung standar tersebut. Kondisi ini membuat pembayaran digital semakin mudah dijangkau, termasuk oleh UMKM.
Pertumbuhan QRIS juga menjadi bagian dari agenda Bank Indonesia dalam memperluas inklusi ekonomi dan keuangan. QRIS bahkan dikembangkan untuk mendukung konektivitas pembayaran lintas negara.
Dengan jumlah pengguna dan merchant yang terus bertambah serta pertumbuhan transaksi yang mencapai lebih dari 100 persen secara tahunan, QRIS diperkirakan akan semakin menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat.
Jadi, apakah masyarakat Indonesia makin jarang menggunakan uang tunai? Indikasinya ada, terutama untuk transaksi ritel sehari-hari. Namun, data UYD yang masih tumbuh menunjukkan uang tunai belum ditinggalkan. Perubahan yang terjadi lebih tepat disebut sebagai pergeseran menuju pola pembayaran yang semakin beragam, dengan QRIS menjadi salah satu pilihan yang tumbuh paling cepat. (*)



