LangsungKlik.id, Jakarta – Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap 14 September di Indonesia. Peringatan tersebut menjadi momentum untuk kembali mendorong masyarakat memanfaatkan perpustakaan sekaligus memperkuat budaya membaca dan literasi.
Hari Kunjung Perpustakaan mulai dicanangkan pada 14 September 1995. Gagasan tersebut berawal dari usulan Kepala Perpustakaan Nasional RI pertama, Mastini Hardjoprakoso, yang kemudian mendapat persetujuan pemerintah melalui surat kepada Kepala Perpusnas pada 11 Agustus 1995.
Peringatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas datang ke perpustakaan. Seiring perkembangan teknologi dan perubahan cara masyarakat memperoleh informasi, perpustakaan juga dituntut semakin dekat dengan kebutuhan pembelajaran dan perkembangan literasi.
Hari Kunjung Perpustakaan 2026
Pada peringatan Hari Kunjung Perpustakaan 2026, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mengangkat tema “Buku: Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran”.
Perpusnas menilai buku memiliki peran penting dalam menjaga ingatan sejarah, memperkenalkan pemikiran dari generasi sebelumnya, sekaligus mewariskan pengetahuan dan pengalaman kepada generasi berikutnya.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengatakan Hari Kunjung Perpustakaan tidak semestinya hanya dimaknai sebagai momentum masyarakat untuk datang ke gedung perpustakaan.
Menurutnya, pustakawan dan pegiat literasi juga perlu hadir di tengah masyarakat untuk memahami kondisi sosial serta tantangan literasi yang dihadapi.
“Demi menghidupkan kembali ruh perpustakaan sebagai rumah peradaban, saya percaya, membangun literasi merupakan kerja peradaban, kerja kita bersama,” kata Suharyanto dalam peringatan Hari Kunjung Perpustakaan 2026.
Budaya Membaca Masih Perlu Diperkuat
Data Perpusnas menunjukkan budaya membaca masyarakat masih menjadi ruang yang perlu terus diperkuat. Kajian Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia tahun 2023 mencatat skor rata-rata 66,77, yang masuk kategori sedang.
Dalam kajian tersebut, rata-rata masyarakat membaca sekitar lima kali dalam satu minggu dengan durasi sekitar satu jam 47 menit per hari. Sementara jumlah bahan bacaan yang dibaca berada pada kisaran lima hingga enam bahan bacaan dalam tiga bulan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap bahan bacaan perlu terus diperluas, sekaligus diikuti dengan upaya membangun kebiasaan membaca yang konsisten.
Perpusnas sebelumnya juga menekankan pentingnya membangun ekosistem kegemaran membaca. Upaya tersebut mencakup penambahan akses bahan bacaan, penguatan pendidikan di keluarga, peningkatan peran perpustakaan dan pemerintah, hingga keterlibatan pustakawan, pegiat literasi, dan komunitas membaca.
Perpustakaan Harus Semakin Dekat dengan Masyarakat
Perkembangan teknologi membuat masyarakat kini memiliki banyak pilihan untuk memperoleh informasi. Kondisi tersebut sekaligus membuat perpustakaan perlu beradaptasi agar tetap relevan.
Perpusnas mendorong perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh atau meminjam buku. Perpustakaan diharapkan menjadi ruang perjumpaan, pertukaran pengetahuan, pembelajaran sepanjang hayat, serta tempat masyarakat mengembangkan kemampuan literasinya.
Hari Kunjung Perpustakaan pada akhirnya bukan sekadar ajakan untuk datang ke gedung perpustakaan. Momentum 14 September menjadi pengingat bahwa budaya membaca dan kemampuan memahami informasi membutuhkan kebiasaan yang dibangun secara terus-menerus.
Di tengah derasnya arus informasi digital, keberadaan perpustakaan tetap memiliki peran penting dalam menyediakan sumber pengetahuan sekaligus membantu masyarakat membangun kemampuan membaca, memahami, dan mengolah informasi secara lebih kritis. (*)



