LangsungKlik.id – Harga komponen komputer menjadi keluhan baru bagi penggemar teknologi pada 2026. Kenaikan harga RAM dan SSD membuat sebagian pengguna mulai berpikir ulang sebelum melakukan upgrade PC, laptop, perangkat mobile, hingga komputer mini seperti Raspberry Pi.
Keluhan tersebut juga ramai dibahas pengguna Reddit di komunitas teknologi Indonesia. Salah satu pengguna membagikan perbandingan harga sejumlah perangkat yang menunjukkan kenaikan cukup tajam dibandingkan harga sebelumnya.
Dalam perbandingan tersebut, NVMe 2TB Gen4 yang sebelumnya berada di kisaran Rp1,97 juta disebut telah mencapai Rp6,78 juta. Harga Raspberry Pi 5 8GB juga disebut naik dari sekitar Rp1,66 juta menjadi Rp5,18 juta.
Kenaikan tersebut membuat sejumlah penggemar teknologi memilih menunda pembelian. Bagi mereka yang menjadikan upgrade perangkat sebagai hobi, kondisi ini mulai mengubah kebiasaan belanja dari rutin mencoba hardware baru menjadi lebih selektif.
Bukan Sekadar Harga di Marketplace
Kenaikan harga yang dirasakan konsumen bukan hanya terjadi pada satu toko atau satu jenis produk. Pasar memori global memang mengalami tekanan sepanjang 2026.
TrendForce pada Juli 2026 menyebut produsen DRAM besar memprioritaskan produksi untuk kebutuhan server sehingga pasokan DRAM konsumen ikut tertekan. Kondisi tersebut membuat harga memori untuk konsumen berpotensi terus meningkat.
Tekanan tersebut berkaitan erat dengan pertumbuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Pusat data membutuhkan kapasitas memori dalam jumlah besar, terutama untuk sistem AI yang menggunakan komponen berperforma tinggi.
Samsung juga menyebut permintaan memori terus mendapat dorongan dari perkembangan AI. Perusahaan tersebut memperkenalkan teknologi memori generasi baru yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI dan penyimpanan berkapasitas tinggi.
Akibatnya, industri memori menghadapi persaingan antara kebutuhan konsumen dan kebutuhan pusat data.
RAM dan SSD Jadi Komponen yang Paling Terasa
Dampaknya paling mudah dirasakan pada RAM dan penyimpanan berbasis NAND Flash.
Pada awal 2026, TrendForce bahkan memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional dapat melonjak 90-95 persen secara kuartalan, sedangkan NAND Flash diperkirakan meningkat 55-60 persen.
Kondisi tersebut kemudian berlanjut ke kuartal berikutnya. Pada kuartal III 2026, harga kontrak DRAM konvensional masih diperkirakan naik 13-18 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara NAND Flash diproyeksikan meningkat 10-15 persen.
Artinya, tekanan harga belum sepenuhnya berakhir meskipun laju kenaikannya mulai melambat.
Bagi pengguna biasa, dampaknya bisa muncul dalam berbagai bentuk. Harga upgrade RAM menjadi lebih mahal, kapasitas SSD yang sama membutuhkan anggaran lebih besar, sementara produsen laptop dan perangkat lain berpotensi meneruskan kenaikan biaya komponen kepada konsumen.
Penggemar Teknologi Mulai Menunda Upgrade
Situasi tersebut membuat perilaku konsumen ikut berubah.
Dalam diskusi Reddit, sejumlah pengguna mengaku memilih mempertahankan perangkat lama lebih lama. Ada pula yang menghentikan kebiasaan upgrade PC dan mengalihkan anggaran hobinya ke aktivitas lain.
Bagi pengguna yang perangkatnya masih mampu menjalankan pekerjaan dan hiburan sehari-hari, membeli komponen baru dengan harga tinggi dianggap kurang menarik.
Fenomena ini cukup masuk akal karena kenaikan harga tidak selalu diikuti peningkatan performa yang sebanding bagi pengguna umum. PC yang masih menggunakan RAM DDR4 atau SSD generasi sebelumnya mungkin tetap mampu menjalankan berbagai kebutuhan tanpa harus segera diganti.
Apakah Harga Akan Kembali seperti 2025?
Pertanyaan terbesar bagi pengguna saat ini adalah apakah harga komponen akan kembali ke level 2025.
Jawabannya belum bisa dipastikan. Industri memori secara historis memang mengalami siklus naik-turun. Namun, kondisi 2026 memiliki faktor tambahan berupa tingginya permintaan dari infrastruktur AI.
TechInsights menilai kekurangan pasokan DRAM dan NAND yang dipicu kebutuhan AI berpotensi bertahan cukup lama karena pembangunan kapasitas produksi semikonduktor membutuhkan waktu.
Di sisi lain, kenaikan harga juga mulai menghadapi batas kemampuan konsumen. Laporan TrendForce yang dikutip Tom’s Hardware menunjukkan kenaikan harga mulai melambat karena pembeli perangkat konsumen semakin sulit menerima harga yang lebih tinggi.
Dengan demikian, kemungkinan yang lebih realistis dalam jangka pendek bukan langsung kembali ke harga 2025, melainkan laju kenaikan mulai melambat sebelum pasar kembali menemukan keseimbangan.
Hobi Upgrade PC Berubah Menjadi Lebih Selektif
Kondisi ini akhirnya membuat hobi teknologi mengalami perubahan kecil tetapi cukup terasa.
Dulu, sebagian pengguna bisa melakukan upgrade karena melihat harga komponen semakin murah dengan performa yang terus meningkat. Kini, keputusan membeli hardware baru membutuhkan pertimbangan lebih panjang.
Pengguna harus memilih apakah benar-benar membutuhkan kapasitas RAM tambahan, SSD baru, atau perangkat generasi terbaru. Menunggu promo, mempertahankan hardware lama, membeli barang bekas, atau melakukan upgrade secara bertahap menjadi pilihan yang semakin masuk akal.
Di tengah ledakan kebutuhan AI, konsumen PC akhirnya ikut merasakan dampak dari perebutan sumber daya komputasi global. Bagi penggemar teknologi, pertanyaannya bukan lagi sekadar “hardware apa yang ingin dibeli?”, tetapi juga “apakah sekarang waktu yang tepat untuk membelinya?”
Satu hal yang jelas, selama permintaan memori untuk AI dan pusat data masih tinggi sementara pasokan konsumen terbatas, harga komponen PC kemungkinan belum akan kembali murah dalam waktu dekat. (*)



