LangsungKlik.id, Jakarta – Industri gim Indonesia semakin menunjukkan potensi sebagai salah satu sektor penting dalam ekonomi digital nasional. Berdasarkan Laporan Kinerja 2025 Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), nilai ekonomi industri gim Indonesia pada 2025 diproyeksikan mencapai Rp32,7 triliun berdasarkan data Newzoo.
Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai pasar gim terbesar di Asia Tenggara. Pertumbuhan pasar turut didorong oleh meningkatnya penetrasi internet, berkembangnya ekosistem kreator lokal, serta semakin besarnya peluang Indonesia menjadi salah satu pusat pengembangan gim di kawasan.
Besarnya pasar domestik membuat industri gim tidak lagi hanya dipandang sebagai sektor hiburan. Ekosistemnya mencakup pengembang, penerbit, kreator, komunitas, investor, hingga berbagai bidang pendukung yang ikut menciptakan aktivitas ekonomi.
Kementerian Komdigi sebelumnya menyatakan industri gim memiliki potensi untuk menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
“Industri gim menjadi industri yang cukup, atau bahkan amat besar, dan dengan kecenderungan meningkat terus,” ujar Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam audiensi dengan Asosiasi Game Indonesia (AGI) pada Mei 2025.
Pemerintah kemudian mendorong penguatan ekosistem gim nasional melalui berbagai program, salah satunya Indonesia Game Developer Exchange (IGDX). Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi pengembang lokal, memperluas jejaring dengan industri global, sekaligus membuka akses terhadap pembiayaan dan pasar.
Dalam laporan kinerja tersebut, Komdigi mencatat IGDX Business and Conference 2025 mempertemukan lebih dari 100 pengembang gim lokal dengan 50 publisher dan investor global. Kegiatan itu menghasilkan lebih dari 1.600 pertemuan bisnis profesional dengan potensi nilai kerja sama mencapai Rp210 miliar.
Upaya pengembangan industri juga terus berlanjut pada 2026. Dalam peringatan Hari Game Indonesia pada Agustus 2026, Komdigi menyatakan pemerintah membuka ruang kolaborasi dan memperluas akses konektivitas untuk membantu pengembang gim nasional meningkatkan kapasitas serta menjangkau pasar yang lebih luas.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan kolaborasi antara pemerintah, pengembang, penerbit, industri, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem gim nasional.
Namun, besarnya pasar domestik juga menjadi tantangan bagi pengembang lokal. Pemerintah perlu mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, akses pendanaan, kemampuan bisnis, serta distribusi gim buatan Indonesia agar pertumbuhan pasar tidak hanya dinikmati produk asing.
Dengan nilai pasar yang mencapai puluhan triliun rupiah, industri gim kini memiliki ruang yang semakin besar untuk berkembang sebagai bagian dari ekonomi kreatif digital Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana pengembang lokal mampu mengambil porsi lebih besar dari pasar tersebut dan menjadikan Indonesia bukan hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai produsen gim yang mampu bersaing di tingkat global. (*)



