LangsungKlik.id, Jember – Pemerintah Kabupaten Jember kembali mendorong pengaktifan depo BBM lokal sebagai salah satu solusi jangka panjang untuk mengantisipasi gangguan pasokan bahan bakar minyak (BBM). Wacana tersebut menguat setelah antrean panjang di sejumlah SPBU Jember terjadi akibat tersendatnya distribusi dari jalur utama Banyuwangi.
Bupati Jember Muhammad Fawait atau Gus Fawait menyampaikan usulan tersebut setelah gangguan distribusi BBM kembali terjadi. Pemkab menilai ketergantungan terhadap satu jalur pasokan membuat Jember rentan ketika terjadi kemacetan atau hambatan di jalur distribusi.
“Kami mengusulkan reaktivasi depo di Jember agar suplai tidak bergantung penuh pada Depo Banyuwangi,” ujar Gus Fawait, Jumat (11/9/26).
Depo Gebang Lama Tak Beroperasi
Depo BBM Pertamina di wilayah Gebang Jember disebut telah lama tidak beroperasi. Dalam pembahasan sebelumnya, Pertamina menyebut depo tersebut berhenti beroperasi sejak 1992, setelah pola suplai dari Banyuwangi digunakan untuk memenuhi kebutuhan Jember dalam kondisi normal.
Pengaktifan kembali depo tersebut kini kembali diwacanakan setelah gangguan distribusi menunjukkan risiko ketergantungan pada satu sumber pasokan.
Bagi Pemkab Jember, keberadaan depo lokal dapat menjadi salah satu titik cadangan ketika jalur distribusi utama mengalami gangguan. Dengan begitu, pasokan BBM tidak harus sepenuhnya menunggu normalnya jalur pengiriman dari Banyuwangi.
Namun, reaktivasi depo lama bukan perkara sederhana. Aspek teknis, keamanan, infrastruktur dan kondisi lingkungan sekitar perlu menjadi bagian dari kajian sebelum fasilitas tersebut dapat kembali digunakan.
Distribusi Alternatif Juga Didorong
Selain reaktivasi depo lokal, Pemkab Jember juga mendorong adanya mekanisme pengalihan pasokan dari wilayah lain ketika jalur utama mengalami kendala.
Surabaya, Malang dan Gresik disebut sebagai sejumlah alternatif titik pasokan. Skema tersebut diharapkan dapat membuat distribusi BBM lebih fleksibel sehingga gangguan pada satu jalur tidak langsung menyebabkan antrean panjang di Jember.
Gus Fawait menilai persoalan distribusi BBM di Jember bukan kali pertama terjadi. Menurutnya, gangguan pada rantai distribusi sudah terjadi tiga kali dan setiap gangguan berdampak terhadap pasokan di daerah.
“Ini sudah ketiga kalinya terjadi di Jember akibat hambatan pada rantai distribusi,” kata Gus Fawait.
Karena itu, Pemkab Jember berencana menyampaikan usulan tersebut kepada Pertamina dan pemerintah pusat. Reaktivasi depo lokal diposisikan sebagai solusi jangka panjang, sementara pengalihan titik pasokan menjadi salah satu langkah antisipasi ketika jalur utama terganggu.
Antrean BBM Sempat Mengular
Gangguan distribusi sebelumnya menyebabkan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU Jember. Bupati bahkan melakukan peninjauan langsung ke SPBU Gebang dan Gajahmada pada 8 September 2026.
Pertamina kemudian menambah pasokan BBM ke Jember. Pemkab menyebut distribusi pada kondisi tersebut mencapai lebih dari 800 kiloliter, sementara kebutuhan pada hari normal berada di kisaran 650 kiloliter. Jember sendiri tercatat memiliki 41 SPBU.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Pemkab Jember mendorong pembenahan sistem distribusi secara lebih permanen. Dengan adanya depo lokal dan jalur pasokan alternatif, pemerintah berharap gangguan pada jalur Banyuwangi tidak kembali berkembang menjadi persoalan antrean BBM di berbagai SPBU. (*)



