LangsungKlik.id, Jakarta – Struktur kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 telah terbentuk. Salah satu posisi yang mendapat perhatian dalam kepengurusan tersebut adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen) yang diemban Gus Gudfan Arif.
Posisi Sekjen memiliki peran dalam menjaga koordinasi antarperangkat organisasi, komunikasi internal, sekaligus memastikan berbagai keputusan dan program PBNU dapat diterjemahkan ke dalam kerja organisasi.
Pengasuh Pesantren Skill Jakarta, Lumajang dan Jember, Dr. KH. Muhammad Nur Hayid atau Gus Hayid, menilai pengalaman Gus Gudfan selama kepengurusan sebelumnya menjadi salah satu modal penting dalam menjalankan tugas tersebut.
“Gus Gudfan ditunjuk sebagai Sekjen karena beliau punya portofolio 5 tahun mengawal PBNU pada periode 2021-2026 kemarin. Beliau tahu dinamikanya, bagaimana roda organisasi ini berjalan dengan baik dan bagaimana mengatasi roda organisasi ini kalau terjadi hambatan atau obstacle,” kata Gus Hayid.
Pengalaman Jadi Modal Konsolidasi
Menurut Gus Hayid, pengalaman selama lima tahun di PBNU dapat menjadi bekal dalam memahami dinamika organisasi sekaligus menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan program.
Dengan struktur NU yang tersebar hingga berbagai daerah, koordinasi antara jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah, lembaga, badan otonom, serta kepengurusan NU di tingkat wilayah dan cabang menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan program.
“Sebagai Sekjen, Gus Gudfan Arif berada pada posisi strategis untuk membantu menerjemahkan arah kebijakan PBNU ke dalam kerja organisasi yang lebih terkoordinasi,” ujar Gus Hayid, yang juga merupakan Komisioner BNSP.
Ia menambahkan, tanggung jawab Sekjen tidak hanya berkaitan dengan administrasi kesekretariatan. Posisi tersebut juga membutuhkan kemampuan membangun komunikasi internal, mengawal tindak lanjut keputusan organisasi, dan menjaga kesinambungan kerja selama periode kepengurusan.
“Nah, pengalaman beliau ini tentu akan menjadi ilmu yang sangat berharga untuk konsolidasi organisasi dan governance atau tata kelola organisasi PBNU periode 2026-2031,” jelasnya.
Didorong Bangun Tata Kelola yang Profesional
Gus Hayid juga berharap pengalaman Gus Gudfan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat tata kelola PBNU selama lima tahun mendatang.
“Kita doakan beliau bisa menjadi konsolidator sekaligus dinamisator tata kelola organisasi yang lebih transparan dan profesional untuk layanan terbaik bagi jamiyah NU dan warga Nahdliyin serta umat Islam dan rakyat Indonesia,” sambung Gus Hayid.
Dalam menjalankan roda organisasi, konsolidasi tidak hanya berkaitan dengan terbentuknya struktur kepengurusan. Komunikasi dan koordinasi antarelemen organisasi juga diperlukan agar kebijakan dapat diterapkan secara selaras di berbagai tingkatan.
Selain penguatan internal, nilai kebangsaan juga menjadi bagian dari khidmah NU. Gus Gudfan sebelumnya menyampaikan bahwa tradisi pesantren dan kecintaan terhadap bangsa merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan.
“Cinta kepada tradisi dan cinta kepada negeri tidak pernah berseberangan. Dari pesantren kita belajar bahwa menjaga agama harus berjalan beriringan dengan menjaga persaudaraan dan keutuhan bangsa,” katanya.
Dengan pengalaman yang dimiliki, Gus Gudfan Arif kini menjalankan peran sebagai Sekjen PBNU untuk periode 2026–2031. Tugas tersebut mencakup penguatan komunikasi, koordinasi, serta konsolidasi agar seluruh unsur organisasi dapat bergerak sesuai arah kepengurusan baru.
Bagi PBNU, konsolidasi organisasi bukan hanya persoalan struktur dan rapat, tetapi juga bagaimana seluruh elemen NU mampu membangun kerja bersama untuk memperkuat khidmah, menjaga tradisi, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa. (*)



