LangsungKlik.id ... < Baca Sebelumnya – Mungkin karena itulah karakter seorang pelaut masih terasa dalam cara melihat Gus Kikin. Seorang pelaut sejati tidak dibentuk ketika laut sedang tenang. Justru karakter seorang pelaut terlihat ketika gelombang mulai tinggi dan cuaca berubah. Ia harus tetap berada di atas kapal ketika orang lain mungkin mulai panik. Ia harus tetap bisa berpikir ketika tekanan datang dari berbagai arah. Ia harus mampu membaca tanda-tanda alam, membaca arah angin, membaca posisi kapal dan menentukan keputusan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Dalam keadaan seperti itu, seorang nakhoda tidak mungkin membiarkan setiap suara dari luar menentukan arah kapalnya.
Di titik inilah pengalaman Gus Kikin menjadi relevan dengan amanahnya sekarang. NU adalah kapal yang sangat besar. Penumpangnya jutaan. Kepentingannya luas. Arah perjalanannya tidak mungkin ditentukan oleh satu atau dua orang. Di dalamnya ada ulama, kiai, pesantren, akademisi, profesional, pengusaha, politisi, anak muda dan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Kapal sebesar ini tentu akan selalu menghadapi ombak. Akan ada perbedaan pandangan, tekanan, kepentingan, bahkan mungkin badai yang datang dari berbagai arah. Yang dibutuhkan bukan pemimpin yang selalu mencari laut tenang, tetapi pemimpin yang tidak mudah panik ketika badai datang.
Gus Kikin memiliki modal pengalaman untuk itu. Ia pernah berada di laut, pernah berhadapan dengan dunia yang tidak selalu bisa diprediksi, pernah berada di dunia usaha yang penuh risiko, pernah mengelola pesantren dengan sejarah besar, dan pernah memimpin NU di Jawa Timur. Semua pengalaman itu tentu tidak otomatis menjadikan seseorang sempurna. Tetapi pengalaman panjang biasanya membuat seseorang lebih tahu mana gelombang yang harus dilalui, mana yang harus dihindari, dan kapan harus mengubah haluan. ... Baca Selanjutnya >



