LangsungKlik.id ... < Baca Sebelumnya – Gus Kikin sekarang berada di anjungan kapal besar bernama Nahdlatul Ulama. Di belakangnya ada warisan besar Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama pendahulu. Di tangannya ada pengalaman pesantren, pelayaran, dunia usaha dan organisasi. Di depannya ada laut masa depan yang tentu tidak selalu tenang. Kita tidak tahu badai apa yang akan datang. Tetapi setidaknya kita tahu, nakhoda kapal ini bukan orang yang asing dengan laut.
Dan mungkin itu yang membuat kita boleh menaruh harapan. Bahwa ketika angin mulai kencang, ketika gelombang mulai tinggi dan ketika tekanan datang dari berbagai arah, Gus Kikin tidak akan mudah kehilangan kendali. Ia sudah belajar dari laut bahwa badai tidak untuk ditakuti, tetapi untuk dibaca dan dilewati. Selama arah dan tujuan masih jelas, kapal harus tetap berlayar.
PBNU ke depan membutuhkan keteguhan itu. Membutuhkan nakhoda yang bisa lentur menghadapi gelombang, tetapi tidak mudah dibengkokkan oleh tekanan. Yang mampu membaca rasi bintang ketika langit gelap, membaca arah angin ketika cuaca berubah, dan tetap memegang kemudi ketika badai datang. Karena kapal sebesar NU tidak membutuhkan nakhoda yang takut pada badai.
Ia membutuhkan nakhoda yang lihai, pemberani dan terus membawa semangat dan optimisme kejayaan masa depan NU dengan fondasi khidmah yang tulus karena semuanya didasarkan pada qonun asasi yang di wasiatkan khusus oleh sang muassis hadrotusyekh Mbah Hasyim Asyari yang tidak lain, mbah buyut beliau sendiri. Selamat berjuang dan berkhidmah Gus Kiai Ketum.
*: Dr. KH. Muhammad Nur Hayid adalah Pengasuh Pesantren Skill Jakarta, Lumajang dan Jember. Beliau juga menjabat sebagai Komisioner BNSP, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta dan Dosen Universitas Indonesia



