LangsungKlik.id ... < Baca Sebelumnya – Menjadi pemimpin organisasi sebesar NU juga bukan berarti harus keras kepada semua orang. Justru seorang pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang bisa lentur tanpa kehilangan prinsip. Seperti kapal yang menghadapi gelombang, ia harus bisa mengikuti gerakan laut agar tidak pecah, tetapi kemudinya tetap harus berada di tangan nakhoda.
Di sinilah kelenturan dan keteguhan harus berjalan bersama. Gus Kikin punya pengalaman sebagai pengusaha yang membuatnya terbiasa bernegosiasi dan membaca situasi, tetapi juga memiliki akar pesantren yang membuatnya memahami bahwa ada nilai dan prinsip yang tidak bisa begitu saja ditukar dengan kepentingan sesaat.
Karena itu, rasanya tidak berlebihan jika Gus Kikin disebut sebagai sang penakluk badai. Bukan karena beliau tidak pernah menghadapi badai, tetapi justru karena beliau sudah cukup lama mengenal badai. Ia pernah menempuh perjalanan di laut, berpindah dari satu benua ke benua lain, mengenal dunia yang luas, kemudian kembali dan membangun kehidupan di dunia usaha, sebelum akhirnya memilih jalan khidmah.
Perjalanan semacam itu membentuk cara pandang yang berbeda. Ia tahu bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Ia tahu bahwa tekanan adalah bagian dari perjalanan. Dan ia tahu bahwa seorang pemimpin tidak boleh kehilangan arah hanya karena angin bertiup kencang.
Pada akhirnya, PBNU membutuhkan seorang nakhoda yang bukan hanya pandai berbicara tentang perjalanan, tetapi pernah benar-benar berada di tengah perjalanan. Seorang yang tahu bagaimana membaca arah ketika keadaan tidak mudah. Seorang yang tidak mudah ditarik ke sana kemari hanya karena tekanan datang dari satu sisi. Seorang yang bisa mendengar banyak suara, tetapi tetap mampu mengambil keputusan. Dan yang paling penting, seorang yang memahami bahwa kapal ini bukan milik nakhoda, melainkan amanah yang harus dibawa sampai ke tujuan. ... Baca Selanjutnya >



