LangsungKlik.id – Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026, setelah sehari sebelumnya mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan rupiah berlangsung di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan bank sentral AS.
Pada penutupan perdagangan Senin (10/8/2026), rupiah menguat 142 poin atau sekitar 0,79 persen ke level Rp17.755 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.897 per dolar AS. Penguatan tersebut menjadi salah satu catatan positif rupiah setelah mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya.
Namun, memasuki perdagangan Selasa (11/8/2026), rupiah kembali menghadapi tekanan. Data pasar yang dikutip sejumlah media menunjukkan rupiah dibuka melemah sekitar 0,17 persen ke kisaran Rp17.780 per dolar AS.
Kurs Rupiah 11 Agustus 2026
Pintu News memperkirakan rupiah bergerak di sekitar Rp17.812 per dolar AS pada perdagangan 11 Agustus 2026. Angka tersebut menggambarkan kondisi pasar dan sentimen yang berkembang pada awal perdagangan.
Sementara itu, data JISDOR Bank Indonesia menunjukkan kurs rupiah terhadap dolar AS pada 10 Agustus berada di level Rp17.795 per dolar AS. Data BI tersebut menjadi salah satu acuan penting dalam melihat perkembangan nilai tukar rupiah.
Kurs transaksi BI untuk 11 Agustus juga menunjukkan nilai kurs jual USD sebesar sekitar Rp17.883,97 dan kurs beli Rp17.706,03.
Perbedaan angka tersebut terjadi karena masing-masing indikator memiliki waktu pencatatan dan mekanisme yang berbeda. Kurs pasar dapat berubah sepanjang hari, sedangkan kurs acuan BI diterbitkan berdasarkan mekanisme tertentu.
Rupiah Menguat 0,79 Persen pada Senin
Sebelum kembali tertekan pada awal perdagangan Selasa, rupiah mencatat penguatan cukup signifikan pada Senin.
Rupiah ditutup di level Rp17.755 per dolar AS, menguat 142 poin atau 0,79 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.897 per dolar AS.
Penguatan tersebut terjadi ketika indeks dolar AS mengalami pelemahan dan sentimen pasar domestik relatif mendukung pergerakan rupiah.
Namun, penguatan rupiah tidak otomatis berarti tekanan terhadap mata uang nasional telah berakhir. Pergerakan nilai tukar masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global, terutama perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed
Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Pergerakan dolar AS dan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed dapat memengaruhi arus modal global. Ketika investor memperkirakan suku bunga AS akan lebih rendah, aset negara berkembang seperti Indonesia dapat memperoleh sentimen positif.
Sebaliknya, ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi dapat kembali meningkatkan daya tarik dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Karena itu, pelaku pasar akan terus mencermati data ekonomi AS dan pernyataan pejabat The Fed untuk menentukan arah perdagangan berikutnya.
Kurs Dolar di Perbankan
Pergerakan kurs di pasar juga tercermin dalam harga valuta asing yang ditawarkan perbankan.
Data kurs BCA pada 11 Agustus 2026 menunjukkan pembaruan kurs dilakukan pada pukul 10.59 WIB. Nilai kurs dolar dapat berbeda antara kurs beli dan kurs jual karena perbankan menggunakan spread dalam transaksi valuta asing.
Kondisi tersebut penting diperhatikan masyarakat yang membutuhkan dolar AS untuk transaksi, perjalanan, pembayaran internasional, maupun kebutuhan bisnis.
Dengan demikian, kurs rupiah hari ini 11 Agustus 2026 masih bergerak dinamis. Setelah menguat cukup besar pada penutupan perdagangan Senin, rupiah kembali menghadapi tekanan pada awal perdagangan Selasa.
Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada sentimen pasar global, arah dolar AS, data ekonomi Amerika Serikat, serta ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Bagi masyarakat dan pelaku usaha, perkembangan kurs perlu terus dipantau karena perubahan nilai tukar dapat berdampak pada harga barang impor, perjalanan luar negeri, hingga biaya transaksi dalam dolar AS. (*)



